Di sebuah Sabtu pagi yang cerah, tepatnya 12 April 2014 kemarin, Kids Today Project berhasil mengumpulkan puluhan ibu-ibu dari berbagai bloggers community untuk berkumpul dalam acara Blogger Gathering yang diadakan di Yeyo Café kawasan Senopati Jakarta selatan. Dengan agenda utama membahas pentingnya kegiatan bermain bagi proses belajar anak dan berdiskusi tentang peran besar orang tua dalam kegiatan bermain tersebut.
Meski undangan ditujukan hanya untuk ibu-ibu blogger, ternyata para ayah banyak yang turut hadir berperan serta. Termasuk si kecil yang rata-rata sejak awal mampu mengikuti kegiatan orang tuanya dengan tertib.
Di salah satu area dalam ruangan tempat berlangsungnya acara ditempatkan pula sebuah ayunan yang di awal acara ditujukan sebagai area photo both untuk competition. Mainan ayunan segera menjadi pusat kegiatan bermain anak. Anak-anak bermain dengan seru, tak kalah antuasias dengan orang tuanya yang sedang bepartisipasi dalam acara ini, seolah menguatkan pesan utama tentang pentingnya kegiatan bermain.
Setelah menyaksikan tayangan film tentang “Anak-anak yang Sibuk” dan “Anak-anak Perkotaan” sebagai pembuka, seolah menyentakkan ibu-ibu blogger, betapa sudah seperti orang dewasa kegiatan anak saat ini. Mulai sejak bangun pagi hingga malam menjelang, anak disibukkan dengan berbagai kegiatan belajar dan les-les terkait pelajaran di sekolah.
Ternyata fenomena tersebut tak hanya terjadi di Indonesia, juga hampir di seluruh dunia. Bahkan dari data yang berhasil dikumpulkan oleh di Amerika, U.S. Department of Education tahun 2010 kemarin, selama sepuluh tahun terakhir disebutkan jam belajar anak bertambah panjang sementara jam bermain semakin terhapus dari kegiatan harian mereka.
Hasilnya? Anak bukannya mampu belajar lebih baik! Sebaliknya kebanyakan anak mengalami tekanan hingga stress, lelah, sukar berkonsentrasi saat belajar di kelas, mengalami penurunan performa belajar, bahkan lebih buruk, sejumlah anak menampilkan keluhan-keluhan fisik seperti sakit perut dan sakit kepala serta terhambat keterampilan sosialnya.
Kemudian dalam diskusi dipaparkan pentingnya keseimbangan antara kegiatan belajar, istirahat, dan bermain pada anak. Sejumlah ibu-ibu blogger baru menyadari ternyata anak butuh setidaknya lima jam kegiatan bermain perhari, baik dalam bentuk kegiatan pasif maupun aktif yang melibatkan berbagai kegiatan motor di luar ruangan, agar terpenuhi kebutuhannya akan bermain.
Dari paparan sejumlah data riset ternyata anak justru belajar melalui kegiatan bermain, terutama di usia “The Play Years”. Dimana kegiatan bermain mencapai puncak dan mendukung berbagai tumbuh kembang pada anak, terutama; pada aspek fisik dan senso-motor, kognitif (berkaitan dengan kecerdasan, berbahasa, kreativitas, dan fungsi-fungsi eksekutif), serta perkembangan psikososial (emosi positif, rasa percaya diri, dan keterampilan sosial).
Dari berbagai data riset diketahui ketika anak diberi kesempatan bermain di sela-sela kegiatan belajarnya, ternyata tak hanya mampu meningkatkan kemampuan fisik, justru meningkatkan kemampuan kosentrasi dan performa saat belajar. Bahkan berbagai perilaku mengganggu di dalam kelas berkurang, motivasi dan prestasi belajar anak meningkat, dan yang paling penting keterampilan sosial berupa; kemampuan bekerja sama, leadership sekaligus followership menjadi lebih baik.
Pada akhir sesi diskusi dibahas pentingnya peran orang tua dalam memfasilitasi kegiatan bermain anak dalam agenda kegiatan hariannya. Beberapa orang tua yang semula khawatir akan keamanan dan kebersihan anak selama bermain didorong untuk tak terlalu menunjukkan kekhawatiran yang berlebihan. Selama orang tua terlibat mengawasi kegiatan bermain dan bila perlu menemani anak dalam kegiatan aktif tersebut, kegiatan bermain akan berfungsi sebagai proses belajar anak tentang kehidupan.
Acara Blogger Gathering ini diharapkan menjadi “gong” yang kelak membawa efek domino bagi orang tua lainnya yang tak berkesempatan hadir untuk lebih terbuka matanya, tentang pentingnya kegiatan bermain aktif pada anak dan berani untuk kotor. Baju kotor bernoda dapat dibersihkan. Namun kesempatan belajar dan mastering new skills yang diperoleh di setiap kesempatan bermain harian anak belum tentu dapat terulang kembali.
Acara Blogger Gathering Kids Today Project ditutup dengan kejutan yang diterima oleh dua ibu dari komunitas blogger yang beruntung memenangkan doorprize berupa masing-masing sebuah peralatan elektronik idaman sebagai apresiasi atas partisipasi mereka di kegiatan gathering kali ini.
Minggu, 20 April 2014
Senin, 09 Desember 2013
Bullying: The Darkside of Friendships
Meski pertemanan punya manfaat penting, enggak dipungkiri pertemanan juga bisa enggak menyenangkan dan berdampak destruktif alias merusak.
Pertemanan yang baik setidaknya memenuhi tiga kriteria ini; 1) saling percaya, 2) mampu beri dukungan emosional, dan 3) sharing of interest.
Sayang, tak selalu mudah melakukannya. Dalam kenyataan, adakalanya pertemanan memasuki periode-periode kegelapan. Salah satunya ketika melibatkan bullying.
Memahami Bullying Bully suatu bentuk perilaku agresif yang melibatkan paksaan, tekanan, dan kekerasan pada orang lain. Meski ada pula bully yang dilakukan secara tidak langsung. Seperti menjauhi seseorang hingga seolah ia menjadi ‘public enemy.’ Tipe bully seperti ini masuk kategori social bullying.
Umumnya bully enggak hanya dilakukan satu kali, melainkan terus menerus. Terutama, saat kekuatan enggak seimbang antara pelaku dan orang yang di- bully. Memang benar, terkadang aksi bully merupakan manifestasi dari perasaan iri dan cemburu. Apalagi ketika orang yang bersangkutan merasa punya dominasi dan merasa senior seperti kakak kelas atau atasan.
Bully enggak cuma dalam bentuk kekerasan fisik. Bisa juga dalam bentuk kekerasan verbal dan emosional. Ciri utamanya: melibatkan intimidasi. Selama ada interaksi antar manusia, ada potensi untuk terjadi bully. It’s like everywhere. Beware!
Atasi Bullying Untuk menghadapi situasi yang melibatkan bullying, kamu enggak bisa sendiri. Miliki support system. Support system bisa siapa pun dari sekitarmu, yang layak dijadikan teman. Penting membangun pertemanan yang solid. Dengan sesama korban bully, dengan teman lain yang sejajar, lebih rendah, juga lebih tinggi dan senior. Punya teman bikin pe-bully enggak punya nyali padamu.
Bila bullying dalam bentuk rumor dan gosip yang tidak benar, mudah. Abaikan. Enggak perlu dibahas pada yang menyebar rumor dan gosip. Kalau kamu konsisten dengan tindakanmu, kelak dia akan malu sendiri. Terutama saat sadar, semua orang paham rumor dan gosip yang beredar tentangmu enggak ada yang benar.
Memahami Bullying Bully suatu bentuk perilaku agresif yang melibatkan paksaan, tekanan, dan kekerasan pada orang lain. Meski ada pula bully yang dilakukan secara tidak langsung. Seperti menjauhi seseorang hingga seolah ia menjadi ‘public enemy.’ Tipe bully seperti ini masuk kategori social bullying.
Umumnya bully enggak hanya dilakukan satu kali, melainkan terus menerus. Terutama, saat kekuatan enggak seimbang antara pelaku dan orang yang di- bully. Memang benar, terkadang aksi bully merupakan manifestasi dari perasaan iri dan cemburu. Apalagi ketika orang yang bersangkutan merasa punya dominasi dan merasa senior seperti kakak kelas atau atasan.
Bully enggak cuma dalam bentuk kekerasan fisik. Bisa juga dalam bentuk kekerasan verbal dan emosional. Ciri utamanya: melibatkan intimidasi. Selama ada interaksi antar manusia, ada potensi untuk terjadi bully. It’s like everywhere. Beware!
Atasi Bullying Untuk menghadapi situasi yang melibatkan bullying, kamu enggak bisa sendiri. Miliki support system. Support system bisa siapa pun dari sekitarmu, yang layak dijadikan teman. Penting membangun pertemanan yang solid. Dengan sesama korban bully, dengan teman lain yang sejajar, lebih rendah, juga lebih tinggi dan senior. Punya teman bikin pe-bully enggak punya nyali padamu.
Bila bullying dalam bentuk rumor dan gosip yang tidak benar, mudah. Abaikan. Enggak perlu dibahas pada yang menyebar rumor dan gosip. Kalau kamu konsisten dengan tindakanmu, kelak dia akan malu sendiri. Terutama saat sadar, semua orang paham rumor dan gosip yang beredar tentangmu enggak ada yang benar.
Cerdas Hadapi Cyber-Bullying: Fitnah di Media Sosial
Cyber-bullying
Ada beberapa aksi bully yang dilakukan dengan menggunakan teknologi sebagai alatnya, seperti; melalui media sosial twitter atau facebook. Umum disebut cyber-bullying.
Cyber-bullying sedikit berbeda dari bullying secara fisik, sosial, maupun verbal. Cyber-bullying bisa terjadi dimanapun dan kapanpun. Bahkan terkadang sukar dilacak karena bisa anonim alias tanpa nama, dapat beredar dengan cepat juga meluas, serta sukar dihapus.
Social bullying, juga dapat terjadi di ranah media sosial, seperti; twitter, facebook, instagram, dll. Umumnya ketika aksi bully yang melibatkan social-talk, gosip, rumor, diperpanjang dengan menggunakan media sosial, masalah bakal lebih runyam. Umum disebut cyber bullying.
Bentuk cyber-bullying yang paling umum adalah berupa fitnah. Umumnya fitnah yang ditebar bersumber dari ketakutan dan kecemasan pelaku bullying yang ditampilkan secara pasif-agresif; menebar fitnah dan rumor tentang orang yang dianggap ‘mengancam’.
Hadapi dengan Cerdas
Mengatasi cyber-bullying seperti ini pun sebetulnya tak terlalu sukar. Terutama bila memiliki kemampuan mengendalikan diri untuk tidak menanggapi fitnah yang beredar. Apalagi memberi klarifikasi pada orang yang bersangkutan. Seandainya dirasa perlu klarifikasi, lakukan japri (jalur pribadi) atau lakukan dengan meluruskan sendiri melalui “pres-con” di akun media sosial-mu tanpa melibatkan dan mention siapapun.
Tujuannya tidak memperpanjang drama yang seharusnya enggak ada dan menutup kemungkinan lebih banyak orang tahu tentang fitnah yang tidak benar itu. Ketika ditanggapi, orang akan semakin tertarik untuk tetap membicarakannya. Apalagi bila tokoh-tokoh yang terlibat saling memberi respon dan komentar.
Maklum, ada banyak orang di luar sana yang senangnya menonton konflik dan membesar-besarkannya agar bisa jadi social-talk dan topik gosip. It bonds people together. Namun pastikan, bukan kamu sasarannya!
Tips: silence is golden dalam situasi seperti ini. Seiring waktu isu tersebut akan hilang sendiri bila kamu dan kakak kelasmu tidak saling menanggapi. Dan pastikan ada sejumlah pertemanan di dekatmu. Ingat, orang ‘takut’ dan ‘enggan’ mengganggu pihak yang diketahui punya banyak teman. Ciayo!
Ada beberapa aksi bully yang dilakukan dengan menggunakan teknologi sebagai alatnya, seperti; melalui media sosial twitter atau facebook. Umum disebut cyber-bullying.
Cyber-bullying sedikit berbeda dari bullying secara fisik, sosial, maupun verbal. Cyber-bullying bisa terjadi dimanapun dan kapanpun. Bahkan terkadang sukar dilacak karena bisa anonim alias tanpa nama, dapat beredar dengan cepat juga meluas, serta sukar dihapus.
Social bullying, juga dapat terjadi di ranah media sosial, seperti; twitter, facebook, instagram, dll. Umumnya ketika aksi bully yang melibatkan social-talk, gosip, rumor, diperpanjang dengan menggunakan media sosial, masalah bakal lebih runyam. Umum disebut cyber bullying.
Bentuk cyber-bullying yang paling umum adalah berupa fitnah. Umumnya fitnah yang ditebar bersumber dari ketakutan dan kecemasan pelaku bullying yang ditampilkan secara pasif-agresif; menebar fitnah dan rumor tentang orang yang dianggap ‘mengancam’.
Hadapi dengan Cerdas
Mengatasi cyber-bullying seperti ini pun sebetulnya tak terlalu sukar. Terutama bila memiliki kemampuan mengendalikan diri untuk tidak menanggapi fitnah yang beredar. Apalagi memberi klarifikasi pada orang yang bersangkutan. Seandainya dirasa perlu klarifikasi, lakukan japri (jalur pribadi) atau lakukan dengan meluruskan sendiri melalui “pres-con” di akun media sosial-mu tanpa melibatkan dan mention siapapun.
Tujuannya tidak memperpanjang drama yang seharusnya enggak ada dan menutup kemungkinan lebih banyak orang tahu tentang fitnah yang tidak benar itu. Ketika ditanggapi, orang akan semakin tertarik untuk tetap membicarakannya. Apalagi bila tokoh-tokoh yang terlibat saling memberi respon dan komentar.
Maklum, ada banyak orang di luar sana yang senangnya menonton konflik dan membesar-besarkannya agar bisa jadi social-talk dan topik gosip. It bonds people together. Namun pastikan, bukan kamu sasarannya!
Tips: silence is golden dalam situasi seperti ini. Seiring waktu isu tersebut akan hilang sendiri bila kamu dan kakak kelasmu tidak saling menanggapi. Dan pastikan ada sejumlah pertemanan di dekatmu. Ingat, orang ‘takut’ dan ‘enggan’ mengganggu pihak yang diketahui punya banyak teman. Ciayo!
Jumat, 06 Desember 2013
Tips Memilih Jurusan
Bingung Memilih Jurusan
Tanya: Diumurku yang sudah dewasa ini, aku belum tahu jurusan apa yang akan aku ambil nanti saat kuliah dan nanti akan jadi apa?
Jawab: Duh, enggak cuma kamu loh yang kebingungan dengan pilihan jurusan dan karier. Mereka yang sudah berusia tiga puluhan bahkan empat puluhan saja saja masih kebingungan menentukan pilihan karier dan pekerjaan yang tepat.
Malah banyak yang masih ragu, apakah dulu mereka sudah mengambil kuliah dengan jurusan yang sesuai? Dalam pengertian sesuai arah minat dan bakat.
Sebetulnya enggak ada orang yang lebih paham kamu selain dirimu sendiri. Kamu bisa menemukan arah minat dan bakatmu. Termasuk cita-cita ke depan. Yuk kita telusuri!
Cara memahaminya:
1) Pahami profil riwayat sekolah dan kegiatan hobi yang pernah kamu geluti. Amati, pelajaran dan kegiatan yang jadi favorit-mu sekaligus yang kamu mampu tampil menonjol. Nah. Bisa jadi itulah bakatmu;)
2) Pahami karakter kepribadianmu untuk menemukan bidang jurusan dan pilihan karier yang sesuai. Apakah kamu lebih kuat hafalan, menulis, dan diskusi (verbal), senang dengan gambar dan skema (visual), atau justru senang hitungan angka (matematis)? Perhatikan kamu orang yang senang berhubungan dengan ide-ide (kreatif), benda, angka, atau orang? Senang bekerja dalam setting yang rutin dan teratur atau diberi kebebasan dan dinamis? Nah kamu bisa temukan kecenderungan kepribadian berikut arah minatmu.
3) Untuk memudahkanmu, bisa juga dengan mempelajari berbagai profesi yang digeluti oleh orang-orang di keluarga besarmu. Maklum bakat dan minat kalian bisa saja mirip bahkan sama.
4) Untuk menemukan jurusan yang tepat, kamu perlu memahami informasi tentang jurusan dan pekerjaan terkait. Pahami, bahwa setiap bidang karier membutuhkan kemampuan (bakat) dan karakter kepribadian (serta minat) tertentu. Informasi tentang pekerjaan dapat kamu temukan di di U.S. Department of Labor’s Dictionary of Occupational Titles atau bisa juga di Occupational Outlook Handbook. Keduanya bisa kamu search di google. Meski dari negeri seberang, setidaknya bisa nambah informasi dan wawasan tentang profil pekerjaan. Temukan yang sesuai dengan kemampuan dan arah minatmu.
5) Bila masih ragu, kamu bisa berkunjung ke psikolog terdekat di area tempat tinggalmu untuk pemeriksaan minat dan bakat. Psikolog bisa ditemui di rumah sakit, klinik, maupun biro konsultasi terdekat. Umumnya psikolog bisa membantu menemukenali minat dan bakatmu melalaui sejumlah metode pemeriksaan, seperti; wawancara & observasi semi terstruktur, hingga memberikan sejumlah tes kemampuan, minat, dan kepribadian.
Right Person in the Right Place
Tahukah, rahasia sukses masa depan? Build a career, don't just have a job. Build a career dimungkinkan bila ada right person in the right place. FYI, selalu ada right person, yaitu kamu. Tugasmu menemukan right place agar kelak mampu membangun karier hebat nan mapan! Prosesnya? Dimulai dari sekarang, di bangku sekolah;)
Tanya: Diumurku yang sudah dewasa ini, aku belum tahu jurusan apa yang akan aku ambil nanti saat kuliah dan nanti akan jadi apa?
Jawab: Duh, enggak cuma kamu loh yang kebingungan dengan pilihan jurusan dan karier. Mereka yang sudah berusia tiga puluhan bahkan empat puluhan saja saja masih kebingungan menentukan pilihan karier dan pekerjaan yang tepat.
Malah banyak yang masih ragu, apakah dulu mereka sudah mengambil kuliah dengan jurusan yang sesuai? Dalam pengertian sesuai arah minat dan bakat.
Sebetulnya enggak ada orang yang lebih paham kamu selain dirimu sendiri. Kamu bisa menemukan arah minat dan bakatmu. Termasuk cita-cita ke depan. Yuk kita telusuri!
Cara memahaminya:
1) Pahami profil riwayat sekolah dan kegiatan hobi yang pernah kamu geluti. Amati, pelajaran dan kegiatan yang jadi favorit-mu sekaligus yang kamu mampu tampil menonjol. Nah. Bisa jadi itulah bakatmu;)
2) Pahami karakter kepribadianmu untuk menemukan bidang jurusan dan pilihan karier yang sesuai. Apakah kamu lebih kuat hafalan, menulis, dan diskusi (verbal), senang dengan gambar dan skema (visual), atau justru senang hitungan angka (matematis)? Perhatikan kamu orang yang senang berhubungan dengan ide-ide (kreatif), benda, angka, atau orang? Senang bekerja dalam setting yang rutin dan teratur atau diberi kebebasan dan dinamis? Nah kamu bisa temukan kecenderungan kepribadian berikut arah minatmu.
3) Untuk memudahkanmu, bisa juga dengan mempelajari berbagai profesi yang digeluti oleh orang-orang di keluarga besarmu. Maklum bakat dan minat kalian bisa saja mirip bahkan sama.
4) Untuk menemukan jurusan yang tepat, kamu perlu memahami informasi tentang jurusan dan pekerjaan terkait. Pahami, bahwa setiap bidang karier membutuhkan kemampuan (bakat) dan karakter kepribadian (serta minat) tertentu. Informasi tentang pekerjaan dapat kamu temukan di di U.S. Department of Labor’s Dictionary of Occupational Titles atau bisa juga di Occupational Outlook Handbook. Keduanya bisa kamu search di google. Meski dari negeri seberang, setidaknya bisa nambah informasi dan wawasan tentang profil pekerjaan. Temukan yang sesuai dengan kemampuan dan arah minatmu.
5) Bila masih ragu, kamu bisa berkunjung ke psikolog terdekat di area tempat tinggalmu untuk pemeriksaan minat dan bakat. Psikolog bisa ditemui di rumah sakit, klinik, maupun biro konsultasi terdekat. Umumnya psikolog bisa membantu menemukenali minat dan bakatmu melalaui sejumlah metode pemeriksaan, seperti; wawancara & observasi semi terstruktur, hingga memberikan sejumlah tes kemampuan, minat, dan kepribadian.
Right Person in the Right Place
Tahukah, rahasia sukses masa depan? Build a career, don't just have a job. Build a career dimungkinkan bila ada right person in the right place. FYI, selalu ada right person, yaitu kamu. Tugasmu menemukan right place agar kelak mampu membangun karier hebat nan mapan! Prosesnya? Dimulai dari sekarang, di bangku sekolah;)
Selasa, 08 Oktober 2013
Memaafkan dan Hidup Lebih Baik
Memaafkan tidak berkaitan dengan: melupakan, menyangkal, apalagi menekan perasaan, dengan mengatakan masalah tidak terjadi atau tidak merasa sakit hati dan kemudian menolerir kejadian yang menyakitkan.
4 Tahap Memaafkan
Untuk bisa memaafkan perlu melewati empat tahap berikut ini; 1.Uncovering; individu perlu memahami betapa besar dampak mendendam, marah, dan benci bagi kehidupannya sendiri.
2.Decision: membuat putusan, akan tetap menyimpan emosi negatif atau justru berbenah dan memaafkan.
3.Work: individu berpusat pada “issue atau masalah” secara langsung. Sehingga secara otomatis mengenyampingkan “pelaku”. Kemudian mencoba mengubah perspektif tentang masalah yang terjadi. Berpikir dari berbagai perspektif dan dimensi membangun ‘reframing’ sejumlah skema dan peghayatan yang dimiliki tentang kejadian yang dianggap menyakitkan.
4.Deepening Ketika “reframing” berhasil, masalah akan mampu dilihat dari perspektif yang berbeda secara mendalam. Sehingga tiba-tiba saja emosi yang tadinya negatif berubah menjadi netral karena pemahaman tentang masalah berubah. Saat itulah seseorang akan ready to forgive.
Tanpa kemampuan memaafkan, kemarahan, dendam, dan perasaan sakit hanya akan menjadi bayang kelam yang menghabiskan setiap bagian dari kehidupan individu. Bahkan menciptakan siklus permusuhan dan balas dendam berulang.
Manfaat Positif Memaafkan a). Michael McCullough (2000) mengatakan “memaafkan memungkinkan seseorang untuk bergerak melampaui kebutuhan akan balas dendam sekaligus membenahi ikatan sosial yang rusak.” b). Memaafkan meningkatkan kesejahteraan emosional, kesehatan secara fisik, dan mendukung kehidupan interpersonal menjadi lebih baik. c). Fakta riset dari Lawler dkk. (2003): individu akan merasakan adanya penurunan tekanan darah dan ketegangan otot hanya dengan “membayangkan” memberi maaf pada seseorang.
Berikan maaf Anda sekarang. Bukan sekedar 'to forgive but not to forget.' Melainkan 'to forgive then live a better life.'
4 Tahap Memaafkan
Untuk bisa memaafkan perlu melewati empat tahap berikut ini; 1.Uncovering; individu perlu memahami betapa besar dampak mendendam, marah, dan benci bagi kehidupannya sendiri.
2.Decision: membuat putusan, akan tetap menyimpan emosi negatif atau justru berbenah dan memaafkan.
3.Work: individu berpusat pada “issue atau masalah” secara langsung. Sehingga secara otomatis mengenyampingkan “pelaku”. Kemudian mencoba mengubah perspektif tentang masalah yang terjadi. Berpikir dari berbagai perspektif dan dimensi membangun ‘reframing’ sejumlah skema dan peghayatan yang dimiliki tentang kejadian yang dianggap menyakitkan.
4.Deepening Ketika “reframing” berhasil, masalah akan mampu dilihat dari perspektif yang berbeda secara mendalam. Sehingga tiba-tiba saja emosi yang tadinya negatif berubah menjadi netral karena pemahaman tentang masalah berubah. Saat itulah seseorang akan ready to forgive.
Tanpa kemampuan memaafkan, kemarahan, dendam, dan perasaan sakit hanya akan menjadi bayang kelam yang menghabiskan setiap bagian dari kehidupan individu. Bahkan menciptakan siklus permusuhan dan balas dendam berulang.
Manfaat Positif Memaafkan a). Michael McCullough (2000) mengatakan “memaafkan memungkinkan seseorang untuk bergerak melampaui kebutuhan akan balas dendam sekaligus membenahi ikatan sosial yang rusak.” b). Memaafkan meningkatkan kesejahteraan emosional, kesehatan secara fisik, dan mendukung kehidupan interpersonal menjadi lebih baik. c). Fakta riset dari Lawler dkk. (2003): individu akan merasakan adanya penurunan tekanan darah dan ketegangan otot hanya dengan “membayangkan” memberi maaf pada seseorang.
Berikan maaf Anda sekarang. Bukan sekedar 'to forgive but not to forget.' Melainkan 'to forgive then live a better life.'
Waspadai, Kekerasan dalam Rumah Tangga
Faktor yang berpotensi memicu kekerasan dalam rumah tangga, antara lain:
1). Stress ekonomi/financial, 2). Pasangan dengan ketergantungan pada alkohol dan narkoba, 3). Pasangan dengan gangguan kepribadian (missal: antisocial, borderline personality, dll).
3 Siklus Pola Kekerasan dalam Rumah Tangga Umumnya pola kekerasan dalam rumah tangga berupa siklus 3 tahap: 1) terbentuk tekanan di antara pasangan 2) tahap eksplosif, dimana terjadi kekerasan 3) tahap 'honeymoon', ketika salah satunya minta maaf dan membangun janji-janji tak akan mengulagi, bahkan memberikan hadiah-hadiah dan berlaku manis sehingga pasangan memilih untuk bertahan dalam pernikahan.
Kekerasan Dalam Rumah Tangga Berpotensi Berulang Ditinjau dari teori-teori orientasi psikodinamika, saat kekerasan terjadi pelaku kekerasan justru memeroleh penguatan saat pasangan terlihat ‘bersedia’ diperlakukan secara kasar dengan kekerasan. Bahkan pelaku justru memeroleh dominasi maksimum saat ia dapat melakukan kekerasan atas pasangan yang cenderung pasif dan tidak asertif. Bahkan ada yang dengan gangguan kepribadian justru memeroleh kepuasan secara emosional bahkan seksual setelah melakukan kekerasan pada pasangan yang pasif dan terlihat bersedia menerima perlakuan tersebut. Sehingga pola ini terus berulang dan bahkan semakin intens dan berat.
Dampak Kekerasan dalam Rumah Tangga Umumnya kekerasan masuk kategori abusive, dengan melihat dampaknya terhadap individu baik secara fisik maupun psikis/psikologis. Dampak tersebut bisa sangat destruktif, misal: mengakibatkan luka fisik, atau tekanan emosional yang berdampak pada rendahnya self-esteem, rendah diri, ketakutan berkepanjangan hingga mimpi buruk, bahkan tekanan emosional dan depresi mendalam disertai gejala-gejala psikofaal, seperti; lelah berkepanjangan, sakit kepala, hingga insomnia atau bahkan justru mengancam jiwa/keselamatan. Dampak seperti ini sudah cukup jadi pertimbangan dasar untuk perceraian.
Mengapa Ada yang Memilih Bertahan Meski Tak Sehat Ada banyak alasan yang membuat pasangan bersedia bertahan dalam pernikahan yang sudah tak sehat alias destruktif. Beberapa diantaranya; a). Ketergantungan secara financial (ekonomi), b). Tekanan secara religi yang tidak membolehkan perceraian, c). Tekanan budaya, d). Tekanan keluarga besar, e). Perasaan malu dan bersalah kalau gagal dalam pernikahan, f). Takut sendirian dan menjanda, g). Faktor anak (misal: kekhawatiran anak tak punya figur ayah), h). Merasa sangat tak berdaya, i). Tak ada pilihan, j). Masih cinta pada pasangan meski dia abusive.
Kapan Memilih Untuk Memaafkan & Bertahan Ketika pasangan tak sekedar minta maaf atas aksi kekerasan yang dilakukan, lebih penting;
1). pasangan bersedia terlibat membenahi konflik/masalah dalam pernikahan. Misal, bersedia ikut konseling pernikahan maupun konseling atas masalah pribadi yang menjadi akar masalah dalam aksi-aksi kekerasan yang ditampilkan.
2). tidak mengulangi tindakan yang sama.
Sebaliknya ketika konseling dan usaha-usaha berbenah tak mampu membawa pernikahan ke arah yang lebih baik, bahkan berdampak destruktif, perceraian tak ayal dapat dijadikan pilihan.
3 Siklus Pola Kekerasan dalam Rumah Tangga Umumnya pola kekerasan dalam rumah tangga berupa siklus 3 tahap: 1) terbentuk tekanan di antara pasangan 2) tahap eksplosif, dimana terjadi kekerasan 3) tahap 'honeymoon', ketika salah satunya minta maaf dan membangun janji-janji tak akan mengulagi, bahkan memberikan hadiah-hadiah dan berlaku manis sehingga pasangan memilih untuk bertahan dalam pernikahan.
Kekerasan Dalam Rumah Tangga Berpotensi Berulang Ditinjau dari teori-teori orientasi psikodinamika, saat kekerasan terjadi pelaku kekerasan justru memeroleh penguatan saat pasangan terlihat ‘bersedia’ diperlakukan secara kasar dengan kekerasan. Bahkan pelaku justru memeroleh dominasi maksimum saat ia dapat melakukan kekerasan atas pasangan yang cenderung pasif dan tidak asertif. Bahkan ada yang dengan gangguan kepribadian justru memeroleh kepuasan secara emosional bahkan seksual setelah melakukan kekerasan pada pasangan yang pasif dan terlihat bersedia menerima perlakuan tersebut. Sehingga pola ini terus berulang dan bahkan semakin intens dan berat.
Dampak Kekerasan dalam Rumah Tangga Umumnya kekerasan masuk kategori abusive, dengan melihat dampaknya terhadap individu baik secara fisik maupun psikis/psikologis. Dampak tersebut bisa sangat destruktif, misal: mengakibatkan luka fisik, atau tekanan emosional yang berdampak pada rendahnya self-esteem, rendah diri, ketakutan berkepanjangan hingga mimpi buruk, bahkan tekanan emosional dan depresi mendalam disertai gejala-gejala psikofaal, seperti; lelah berkepanjangan, sakit kepala, hingga insomnia atau bahkan justru mengancam jiwa/keselamatan. Dampak seperti ini sudah cukup jadi pertimbangan dasar untuk perceraian.
Mengapa Ada yang Memilih Bertahan Meski Tak Sehat Ada banyak alasan yang membuat pasangan bersedia bertahan dalam pernikahan yang sudah tak sehat alias destruktif. Beberapa diantaranya; a). Ketergantungan secara financial (ekonomi), b). Tekanan secara religi yang tidak membolehkan perceraian, c). Tekanan budaya, d). Tekanan keluarga besar, e). Perasaan malu dan bersalah kalau gagal dalam pernikahan, f). Takut sendirian dan menjanda, g). Faktor anak (misal: kekhawatiran anak tak punya figur ayah), h). Merasa sangat tak berdaya, i). Tak ada pilihan, j). Masih cinta pada pasangan meski dia abusive.
Kapan Memilih Untuk Memaafkan & Bertahan Ketika pasangan tak sekedar minta maaf atas aksi kekerasan yang dilakukan, lebih penting;
1). pasangan bersedia terlibat membenahi konflik/masalah dalam pernikahan. Misal, bersedia ikut konseling pernikahan maupun konseling atas masalah pribadi yang menjadi akar masalah dalam aksi-aksi kekerasan yang ditampilkan.
2). tidak mengulangi tindakan yang sama.
Sebaliknya ketika konseling dan usaha-usaha berbenah tak mampu membawa pernikahan ke arah yang lebih baik, bahkan berdampak destruktif, perceraian tak ayal dapat dijadikan pilihan.
Bayi Tidur Sendiri Atau Bersama Orang Tua?
Apapun pilihan Anda, cermati beberapa faktor dan kondisi antara lain; usia, kebutuhan, dan pola tidur bayi; kondisi dan kebutuhan sebagai orang tua; pengaruh budaya hingga ketersediaan sarana dan prasarana yang memadai.
Pengaruh Budaya? Dalam buku Child Psychology dari Ross Vasta dkk (2004) disebutkan di kalangan menengah Amerika kebanyakan orang tua memilih untuk tidur terpisah dari bayinya pada usia sekitar empat bulan. Bayi tidur di tempat tidur bahkan di kamar sendiri, dengan alasan agar bayi menjadi lebih independent dan mampu membangun pola tidur yang baik. Sementara di kalangan bawah dan pada sejumlah kelompok etnis tertentu, seperti Afrika Amerika, mereka lebih memilih untuk tidur di ranjang yang sama dengan bayinya dengan alasan ingin membangun kedekatan. Dan di banyak budaya kondisi ini kerap menjadi pilihan, termasuk di Indonesia. Di Indonesia sebagian besar pasangan muda masih tinggal bersama dengan orang tua atau keluarga besar. Akibatnya satu rumah dihuni oleh beberapa keluarga yang sering kemudian berbagi kamar bahkan tempat tidur, termasuk bayi dan orang tuanya.
Pola Tidur Bayi Bayi yang baru dilahirkan hingga usia enam bulan, memiliki kebutuhan tidur hingga delapan belas jam sehari. Mereka bangun setiap dua hingga tiga-empat jam untuk minum susu. Pola tidurnya secara umum terbagi dua. Sekitar 50% tidur aktif (REM, yang sering disebut tidur dengan mimpi) dan 50% tidur tenang (non REM, dimana tubuh sangat relaks). Kondisi ini cukup menyulitkan bagi ibu bila mengasuh bayi dari kamar berbeda. Terutama mengingat faktor keamanan bayi. Sekitar usia enam hingga dua belas bulan, bayi semakin menunjukkan pola tidur yang lebih regular dan panjang. Rata-rata mereka tidur hingga enam belas jam per hari. Dengan waktu tidur-bangun yang lebih panjang. Seiring bertambahnya usia bayi, akan lebih memungkinkan bagi para bayi untuk tidur sendiri di ranjang mereka di kamar terpisah.
Peran dan Kebutuhan Orang tua Kebanyakan orangtua mengalami perubahan yang drastis dalam hidupnya begitu memiliki anak. Sejumlah orang tua mengatakan “welcome to sleepless night” seiring dengan kelahiran para bayi. Kenyataannya, bayi membutuhkan perhatian ekstra dari ibu maupun ayah. Tidak hanya perlu menyesuaikan diri dengan kondisi tubuh dan perubahan hormonal pasca melahirkan yang harus dihadapi ibu, melainkan juga pengasuhan bayi yang kerap total. Tentu saja kondisi tersebut melelahkan mengingat pola tidur bayi baru lahir yang begitu singkat. Sayang, tak banyak orang tua yang paham bahwa mereka membutuhkan waktu tidur yang memadai agar tidak kelelahan dan kemudian menjadi stress hingga depresi dan mengalami konflik dengan diri maupun pasangan. Dengan pertimbangan ini, tidur terpisah dari bayi, dimana pengasuhan kemudian secara bergantian dapat didelegasi pada suami, orang tua (kakek-nenek si bayi), hingga menggunakan jasa pengasuh bayi.
Dimana Bayi Tidur? 1. Seranjang dengan Orang Tua Bayi yang tidur seranjang dengan orang tua, secara umum memudahkan ibu menyusui kapanpun dan membuat bayi menjadi lebih tenang tidurnya. Hanya saja orang tua tak memiliki waktu tidur yang memadai. Bahkan bayi berisiko tertekan oleh tubuh orang tuanya bahkan ketika bayi sudah bertambah umur, bayi berisiko jatuh dari tempat tidur karena tidak ada pelindung bayi di tempat tidur orang tua.
2. Sekamar dengan orang tua di ranjang terpisah Dengan tempat tidur yang berdekatan, orang tua dapat dengan mudah tetap memantau bayi dan menyusui tanpa harus selalu terganggu dengan gerakan atau suara bayi. Keamanan bayi pun terjaga. Bahkan bayi tetap dapat tidur tenang dengan pola tidur yang baik. Yang perlu jadi catatan, pastikan ranjang bayi terbuat dari bahan yang aman, bentuknya pun aman bagi bayi, dan kasur tidak terlalu lunak agar bayi tak terhalang belajar berbalik dan tengkurap kelak. Bahkan selimut pun dipastikan tidak terlalu tebal dan dipasang sebatas dada bayi, untuk menghindari bayi tertutup selimutnya sendiri. Sama seperti model pertama, model ini tetap menyulitkan orang tua memiliki waktu tidur yang memadai.
3. Tidur di Ranjang dan Kamar Terpisah Model ini meski memudahkan orang tua memiliki waktu istirahat yang cukup, perlu diperhatikan kondisi kamar bayi. Kamar bayi sebisa mungkin berdekatan dengan kamar orang tua, atau memiliki pintu penghubung. Bila tidak memungkinkan perlu ada monitor bayi sehingga orang tua tetap bisa memantau bayinya dari kamar mereka. Sebetulnya kondisi orang tua di Indonesia cukup diuntungkan. Dengan kekerabatan yang kuat, pengasuhan dapat dilakukan secara bergantian dengan delegasi pada nenek atau pengasuh bayi. Bayi tetap dapat tidur dengan tenang di tempat tidurnya di kamar sendiri, sementara faktor keamanan dan kenyamanan tetap terjaga karena ada sejumlah figur yang membantu.
Pada akhirnya dengan sejumlah pertimbangan di atas, apapun pilihan orang tua, para bayi akan dapat tidur dengan pola yang reguler dan panjang seiring dengan bertambahnya usia mereka. Bahkan mereka sejak dini sudah mampu membangun kenyamanan dalam ‘sarang’-nya. Namun pastikan, tak hanya bayi yang diharapkan dapat tidur dengan nyenyak dan nyaman, begitupun orang tua.
Pengaruh Budaya? Dalam buku Child Psychology dari Ross Vasta dkk (2004) disebutkan di kalangan menengah Amerika kebanyakan orang tua memilih untuk tidur terpisah dari bayinya pada usia sekitar empat bulan. Bayi tidur di tempat tidur bahkan di kamar sendiri, dengan alasan agar bayi menjadi lebih independent dan mampu membangun pola tidur yang baik. Sementara di kalangan bawah dan pada sejumlah kelompok etnis tertentu, seperti Afrika Amerika, mereka lebih memilih untuk tidur di ranjang yang sama dengan bayinya dengan alasan ingin membangun kedekatan. Dan di banyak budaya kondisi ini kerap menjadi pilihan, termasuk di Indonesia. Di Indonesia sebagian besar pasangan muda masih tinggal bersama dengan orang tua atau keluarga besar. Akibatnya satu rumah dihuni oleh beberapa keluarga yang sering kemudian berbagi kamar bahkan tempat tidur, termasuk bayi dan orang tuanya.
Pola Tidur Bayi Bayi yang baru dilahirkan hingga usia enam bulan, memiliki kebutuhan tidur hingga delapan belas jam sehari. Mereka bangun setiap dua hingga tiga-empat jam untuk minum susu. Pola tidurnya secara umum terbagi dua. Sekitar 50% tidur aktif (REM, yang sering disebut tidur dengan mimpi) dan 50% tidur tenang (non REM, dimana tubuh sangat relaks). Kondisi ini cukup menyulitkan bagi ibu bila mengasuh bayi dari kamar berbeda. Terutama mengingat faktor keamanan bayi. Sekitar usia enam hingga dua belas bulan, bayi semakin menunjukkan pola tidur yang lebih regular dan panjang. Rata-rata mereka tidur hingga enam belas jam per hari. Dengan waktu tidur-bangun yang lebih panjang. Seiring bertambahnya usia bayi, akan lebih memungkinkan bagi para bayi untuk tidur sendiri di ranjang mereka di kamar terpisah.
Peran dan Kebutuhan Orang tua Kebanyakan orangtua mengalami perubahan yang drastis dalam hidupnya begitu memiliki anak. Sejumlah orang tua mengatakan “welcome to sleepless night” seiring dengan kelahiran para bayi. Kenyataannya, bayi membutuhkan perhatian ekstra dari ibu maupun ayah. Tidak hanya perlu menyesuaikan diri dengan kondisi tubuh dan perubahan hormonal pasca melahirkan yang harus dihadapi ibu, melainkan juga pengasuhan bayi yang kerap total. Tentu saja kondisi tersebut melelahkan mengingat pola tidur bayi baru lahir yang begitu singkat. Sayang, tak banyak orang tua yang paham bahwa mereka membutuhkan waktu tidur yang memadai agar tidak kelelahan dan kemudian menjadi stress hingga depresi dan mengalami konflik dengan diri maupun pasangan. Dengan pertimbangan ini, tidur terpisah dari bayi, dimana pengasuhan kemudian secara bergantian dapat didelegasi pada suami, orang tua (kakek-nenek si bayi), hingga menggunakan jasa pengasuh bayi.
Dimana Bayi Tidur? 1. Seranjang dengan Orang Tua Bayi yang tidur seranjang dengan orang tua, secara umum memudahkan ibu menyusui kapanpun dan membuat bayi menjadi lebih tenang tidurnya. Hanya saja orang tua tak memiliki waktu tidur yang memadai. Bahkan bayi berisiko tertekan oleh tubuh orang tuanya bahkan ketika bayi sudah bertambah umur, bayi berisiko jatuh dari tempat tidur karena tidak ada pelindung bayi di tempat tidur orang tua.
2. Sekamar dengan orang tua di ranjang terpisah Dengan tempat tidur yang berdekatan, orang tua dapat dengan mudah tetap memantau bayi dan menyusui tanpa harus selalu terganggu dengan gerakan atau suara bayi. Keamanan bayi pun terjaga. Bahkan bayi tetap dapat tidur tenang dengan pola tidur yang baik. Yang perlu jadi catatan, pastikan ranjang bayi terbuat dari bahan yang aman, bentuknya pun aman bagi bayi, dan kasur tidak terlalu lunak agar bayi tak terhalang belajar berbalik dan tengkurap kelak. Bahkan selimut pun dipastikan tidak terlalu tebal dan dipasang sebatas dada bayi, untuk menghindari bayi tertutup selimutnya sendiri. Sama seperti model pertama, model ini tetap menyulitkan orang tua memiliki waktu tidur yang memadai.
3. Tidur di Ranjang dan Kamar Terpisah Model ini meski memudahkan orang tua memiliki waktu istirahat yang cukup, perlu diperhatikan kondisi kamar bayi. Kamar bayi sebisa mungkin berdekatan dengan kamar orang tua, atau memiliki pintu penghubung. Bila tidak memungkinkan perlu ada monitor bayi sehingga orang tua tetap bisa memantau bayinya dari kamar mereka. Sebetulnya kondisi orang tua di Indonesia cukup diuntungkan. Dengan kekerabatan yang kuat, pengasuhan dapat dilakukan secara bergantian dengan delegasi pada nenek atau pengasuh bayi. Bayi tetap dapat tidur dengan tenang di tempat tidurnya di kamar sendiri, sementara faktor keamanan dan kenyamanan tetap terjaga karena ada sejumlah figur yang membantu.
Pada akhirnya dengan sejumlah pertimbangan di atas, apapun pilihan orang tua, para bayi akan dapat tidur dengan pola yang reguler dan panjang seiring dengan bertambahnya usia mereka. Bahkan mereka sejak dini sudah mampu membangun kenyamanan dalam ‘sarang’-nya. Namun pastikan, tak hanya bayi yang diharapkan dapat tidur dengan nyenyak dan nyaman, begitupun orang tua.
Langganan:
Postingan (Atom)