Minggu, 24 Maret 2013

Kelola Akun Media Sosial, Membangun Brand-Diri Anda

Mengenal Brand

Brand tidak hanya sebuah nama dari produk. Dalam konsep yang lebih luas, brand adalah sebuah simbol, trade mark, dari apapun yang diwakilinya. Dalam karier dan pekerjaan, Anda mewakili semua keahlian dan jasa yang hendak Anda tawarkan kepada pengguna. Dalam konteks ini pengguna adalah perusahaan atau klien yang akan mempekerjakan atau membutuhkan jasa Anda.

Dalam pengembangan karier, tidak hanya profesional, seperti selebritis, motivator, pakar, yang sering bertatap muka dengan orang lain saja yang butuh membangun personal-brand atau Brand-Diri. Semua profesi butuh membangun Brand-Diri yang benar-benar mewakili dirinya sebagai sebuah ‘produk’ bagi perusahaan pemakai.

Saat pertama kali hendak melamar di sebuah perusahaan, Anda mengirimkan CV yang ‘menjajakan’ kepada perusahaan sebuah promise tentang “feature-feature” yang Anda miliki yang dapat ditemukan perusahaan dari diri Anda. Feature ini dapat berupa: keahlian dan kemampuan, knowledge, maupun karakter khas tertentu, Sayangnya, ada banyak ‘brand’ atau calon pekerja lain yang juga ‘menjajakan promise’ yang sama. Itu sebabnya sebagai sebuah brand, sejak awal hendak memulai karier, Anda dituntut untuk memiliki ‘trade mark’ tertentu yang sangat khas dari Anda, agar kelak siap menjadi “brand” yang paling lawas dan diakui di bidang-nya, apapun jenis profesi Anda. Tak ada kata terlambat, sejak detik ini persiapkanlah Brand-Diri Anda.



Jadikan Media Sosial Etalase Brand-Diri

Jaringan media sosial merupakan salah satu tempat dimana orang bisa ‘melihat’ dan mengenal Anda melebihi yang Anda kehendaki dan bayangkan. Anda tak akan pernah tahu, kemana saja dan kepada siapa saja, media sosial akan membawa Anda. Bisa saja pada orang yang kelak akan menjadi teman atau sahabat Anda, pasangan seumur hidup, atasan, HRD, hingga stalker sekalipun.

Dalam konteks personal-branding, media sosial justru adalah ‘etalase’ bagi Brand-Diri Anda untuk ditampilkan. Saat ini, media sosial sudah menjadi sebuah ajang promosi dan publisitas, mau Anda kehendaki atau tidak.

Bagi yang tidak menghendaki, silahkan menggunakan security-setting sesuai keinginan. Dengan mengatur agar jejaring sosial Anda hanya dapat dilihat oleh yang Anda kehendaki. Namun jangan salah, ketika Anda sudah memilih pun, Anda tetap sedang membuka ‘etalase’ bagi Brand-Diri Anda. Jangan lupa, teman manapun yang Anda miliki dan pilih untuk ada dalam jaring media sosial Anda, adalah bagian dari “konsumen” Anda. Dari mulut mereka, dapat keluar opini, pendapat, persepsi tentang Anda yang kelak dapat disampaikan kepada siapapun. Khususnya terkait: keahlian, kemampuan, pengetahuan, maupun karakter khas tertentu.



Personal-Branding Management Penting. Pada dasarnya setiap orang mengelola apa yang hendak ia tampilkan dan tidak tampilkan tentang dirinya terkait identitas yang sedang digunakan. Aturan paling awal dalam personal-branding adalah: sending only a meaningful message. Kirim pesan yang memperkuat kesan tentang feature-feature yang ingin Anda tawarkan sebagai profesional atau pribadi yang sedang Anda tawarkan melalui Brand-Diri Anda. Ingat, message yang Anda kirimkan dapat memperlihatkan pada orang lain, tentang siapa Anda; apakah Anda cerdas atau rata-rata, mampu mengendalikan diri atau mudah meledak-ledak, menyenangkan atau menyebalkan, senang bergosip dan beropini atau berlandaskan fakta dan data, Dengan kata lain, message yang Anda cetuskan, akan memberi input pada yang lain tentang ide, gagasan, perasaan,nilai dan beliefs Anda kepada orang lain termasuk pengetahuan dan keahlian Anda. Meski sedang ditujukan untuk sekedar bersosialisasi, pastikan Anda ‘menyajikan’ Brand-Diri yang tepat. Seorang Antropolog bernama Walter Goldschmidt mengatakan bahwa dorongan untuk memenuhi kebutuhan bersosialisasi bahkan juga merupakan “the human career.”



Jaim, No Way!

Focus, focus, focus… For what do you stand for! Itu jawaban yang tepat tentang alasan keberadaan Anda di social media. Sebelum membuka sebuah akun, rumuskan, hendak menjajakan identitas diri yang mana Anda di jarring tersebut. Ingat,setiap orang memiliki sejumlah identitas diri. Sebagai seorang profesional, pekerja yang rajin, ibu yang baik, istri idaman, anak yang berbakti, teman yang hangat, sahabat baik, atau sebagai individu yang sekedar ingin ‘exist’ sebagai bagian dari proses aktualisasi diri atau hanya sekedar punya ruang curhat sekaligus ‘diperhatikan’ oleh yang lain. Karena bila alasan Anda adalah sekedar curhat, Anda tentu tak akan melakukannya di jaring sosial yang jelas “banyak penghuninya”. Justru Anda akan lebih memilih secarik kertas di halaman buku harian Anda.

Tetap perlu diingat, Anda adalah human-being. Pastikan apapun identitas diri yang ingin Anda tampilkan dalam jaring social Anda, pastikan tidak pernah lepas dari sisi-sisi yang humanis. Melibatkan emosi yang jujur namun tetap menaati social convention.. Apa yang patut dan tidak patut untuk dikeluarkan sebagai bagian dari tagline “Brand-Diri” Anda, selayaknya Anda paham.

Ketika Istri Menjadi Penafkah Utama Rumah Tangga

Siapa penafkah dalam rumah tangga Anda? Suami atau Istri? Penafkah dimaksudkan sebagai figur yang bertanggung jawab memenuhi kebutuhan finansial dalam rumah tangga (RT). Pada dasarnya setiap RT memiliki pengaturan dan kesepakatan tersendiri.

Tradisional vs Egaliter Secara umum, dalam keluarga dengan pola tradisional, suami adalah penafkah utama. Suami satu-satunya tokoh yang bekerja menghasilkan uang untuk membiayai keuangan keluarga. Pola tradisional bukan satu-satunya, ada pola yang lebih maju yakni penganut egalitarian dimana suami dan istri berbagi peran bersama.

Ditinjau dari trend sosial, persentase perempuan menikah yang bekerja mengalami peningkatan secara signifikan. Kehadiran ibu bekerja besar artinya bagi kelangsungan hidup keluarga masa kini agar lebih sejahtera finansial. Ada joke yang sering dikumandangkan tentang semakin tingginya tantangan hidup masa kini. “Di era 80an, ayah bekerja sudah cukup menjadikan keluarga sejahtera. Era 90-an, ayah bekerja belum cukup membuat keluarga sejahtera. Butuh ayah dan ibu bekerja agar keluarga sejahtera. Era 2000, meski ayah dan ibu bekerja, keluarga belum tentu sejahtera. Artinya, kini ibu bekerja bukan lagi kondisi pilihan bagi para istri melainkan keadaan yang wajib dijalani untuk membantu suami menafkahi keluarga.

Sayang, kehidupan RT adalah kehidupan yang dinamis. Begitupun kehidupan karier. Tak sedikit perempuan yang kehidupn kariernya menjulang cepat diikuti dengan melesatnya pendapatan. Sehingga, disadari atau tidak, pertambahan pendapatan tersebut kemudian dijadikan sebagai sumber pendapatan utama keluarga yang sebetulnya menjadi tanggung jawab suami sebagai penafkah utama. Sehingga ada pergeseran peran.

Istri Penafkah Utama, Jadi Masalah? Tak ada yang salah ketika pendapatan istri lebih ginggi dari pasangan. Begitupun ketika istri mulai secara perlahan berubah peran dari kontributor atau Supporter menjadi penafkah utama. Sumber masalah justru muncul bukan dari pendapatan yang lebih besar dan peran yang tinggi. Melainkan saat muncul ketidakadilan pembagian peran dalam rumah tangga

1. Istri secara perlahan mengambil lalih peran suami sebagai penafkah utama

2. suami vs istri mulai berkompetisi

3. suami menikmati peran yang terbatas



Tips Untuk Keluarga dengan Istri Sebagai Penafkah Utama

1. Sesuaikan gaya hidup keluarga dengan pendapatan suami. Pastikan posisi suami sebagai penafkah utama yang membiayai kebutuhan pokok dan rutin di ruman tidak berkurang. Pendapatan istri yang semakin besar justru dapat menjadi support bagi keluarga untuk mengembangkan investasi secara optimal

2. Bila istri terpaksa menjadi penafkah utama dalam rumah tangga, pastikan suami menjadi pendukung penuh secara emosional. Artinya, suami rela berbagi peran mengurus RT bersama istri dan merelakan diri untuk tidak menuntut istri berperan melayani suami secara penuh di rumah. Dukungan bagi istri sangat dibutuhkan khususnya bila istri memiliki kedudukan karier yang baik dengan tanggung jawab tugas yang besar.

jadi, pastikan istri sebagai penafkah utama dalam rumah tangga tidak lagi menjadi masalah dengan menerapkan pengaturan dan pembagian peran yang sehat.

Jumat, 22 Februari 2013

Anak Perlu Masuk Preschool? Ini Tipsnya!

Bukan rahasia, biaya pendidikan anak semakin tinggi! Sejumlah orang tua yang datang ke ruang praktek saya mencetuskan, kini salah satu investasi terbesar mereka adalah pendidikan anak. Sayang, report dari Carnegie Corporation tahun 1996 silam di Amerika, menemukan empat dari lima program pendidikan preschool, tidak sesuai standard! Bahkan hingga kini masih dipertanyakan, apakah pendidikan pra sekolah penting bagi anak?

Pendidikan Sejak Preschool, Pentingkah Bagi Anak? David Elkind, psikolog perkembangan, menyebutkan bahwa orang tua mampu menyediakan pendidikan anak usia pra sekolah di rumah. Asalkan orang tua cukup kompeten dan punya dedikasi, dalam pengertian cukup waktu dan energi untuk menstimulasi anak secara khusus. Apalagi bila lingkungan rumah memungkinkan anak bermain dengan teman sebaya dan bertemu orang dewasa selain orang tua. Bila kondisi ini tidak dapat dipenuhi, preschool menjadi penting.

Pertimbangan Dalam Memilih Sekolah Berikut ada beberapa pertimbangan dalam memilih sekolah bagi anak.

1. Lokasi

Anak dapat belajar secara optimal saat mereka sedang tidak berada dalam kondisi kelelahan. Kelelahan membuat anak sukar berkonsentrasi dan memiliki kondisi emosi yang cenderung negatif. Itu sebabnya, pertimbangan lokasi sekolah yang tidak jauh dari rumah perlu dijadikan kriteria utama.

2. Biaya

Biaya sekolah yang tinggi belum tentu menggambarkan materi dan program yang berkualitas baik. Namun biaya sekolah yang terlalu tinggi hingga memberatkan keuangan keluarga bukanlah pilihan bijak, mengingat anak kelak akan terus mengenyam pendidikan hingga tingkat tinggi. Meskipun pada klien dalam konseling saya selalu mengingatkan orangtua agar mendorong anak mendapatkan scholarships alias beasiswa namun sebagai orangtua yang ‘ready,’ Anda tetap akan dituntut mampu menyediakan pendidikan bagi setiap anak Anda. Jadi pastikan biaya pendidikan yang Anda keluarkan untuk masuk preschool, tak menghalangi Anda untuk tetap dapat berinvestasi bagi pendidikan berikutnya.

3. Kualitas Sekolah

Perbandingan guru dan anak, lingkungan fisik sekolah, karakteristik guru (pendidikan formal guru di skeolah tersebut, pelatihan-pelatihan khusus yang pernah mereka ikuti, dan perilaku guru di sekolah. Untuk melihat kondisi-kondisi ini, ada baiknya Anda melakukan trial dan melihat-lihat aktivitas di ruang kelas. Berikut panduan untuk Anda.



• Guru

Guru adalah orang dewasa yang terlihat menikmati dan memahami perkembangan anak. Pastikan jumlah guru memadai untuk anak. Berikut perbandingannya berdasarkan tahap usia perkembangan.



Usia Anak Maka Perbandingan Guru : Anak

0 sampai 1 tahun maka 1 : 3

1 sampai 2 tahun maka 1 : 5

2 sampai 3 tahun maka 1 : 6

3 sampai 4 tahun maka 1 : 8

4 sampai 5 tahun maka 1 : 10



Pastikan guru melakukan observasi dan mencatat kemajuan dan perkembangan anak

• Hubungan antara guru dan staf sekolah dengan orang tua dan komunitasnya. Guru dan staf sekolah adalah orang yang tidak pelit berbagi informasi tentang kegiatan dan perkembangan anak pada orangtua.

• Program yang diberikan dan kelengkapan equipment. Pastikan lingkungan sekolah mendukung pertumbuhan dan perkembangan anak, terutama mendorong anak yang berusia kecil bekerja sama dan bermain dengan temannya. Pastikan program sekolah dilengkapi dengan peralatan dan material belajar yang memadai. Pastikan anak didorong untuk berkembang kemampuan berbahasanya dan belajar memahami dunia luar lebih luas. Akan lebih baik bila materi diberikan dalam bentuk proyek-proyek dimana anak melakukan secara langsung dan berkreasi, bukan hanya diarahkan.

• Fasilitas sekolah. Pastikan fasilitas yang ada memadai atau mengakomodir kegiatan sekolah. Jarak antar meja dalam kelas, ukuran meja dan kursi yang sesuai usia anak, lingkungan yang ‘children frindly’, bebas racun dan polusi, dan sangat menjunjung aspek kesehatan anak.

• Sekolah internasional, national plus, atau swasta biasa, umumnya berbeda dari loading penggunaan bahasa asing dalam penyampaian materi dan sumber/dasar kurikulum yang digunakan. Pastikan pilihan Anda tentang sekolah bukan berdasarkan mana yang lebih keren atau mahal, melainkan mana yang lebih sesuai dengan budaya di rumah Anda. Jangan paksakan si kecil menggunakan bahasa asing secara total bila Anda dan seluruh isi rumah serta lingkungannya menggunakan bahasa Indonesia 100%. Bila perlu ajarkan ia bahasa ibu sekaligus bahasa asing lain. Tenang, anak mampu menyerap lebih dari satu bahasa dengan baik!



4. Pastikan sekolah yang Anda pilih, mengajarkan nilai-nilai yang sesuai dengan nilai di keluarga Anda atau nilai kehidupan yang Anda anggap penting. Misal, pendidikan agama tertentu, atau sikap dan etiket tertentu.

5. Memastikan program di sebuah sekolah baik atau tidak, dapat terlihat langsung pada perilaku anak-anak secara umum. Pastikan saat melakukan trial Anda memerhatikan bagaimana interaksi anak-anak dengan sesama mereka, interaksi mereka dengan guru dan orang dewasa disekitarnya.

Namun sekolah terbaik tetap tak akan mampu menggantikan peran orang tua dalam mentransfer nilai-nilai luhur dan mendukung kebutuhan anak belajar dan berprestasi. Pastikan sebagai orang tua Anda menunjukkan kepada anak bahwa Anda memiliki minat yang besar pada sekolahnya, kegiatan sekolah, dan pendidikan. Tingkatkan frekuensi berbicara dengan hangat bersama anak tentang kegiatan-kegiatannya dan aspirasi Anda. Semoga Anda menemukan sekolah yang tepat dan anak tumbuh-berkembang secara optimal!

Kamis, 07 Februari 2013

Sentuhan Tak Selalu Bermakna Seksual

Sukar mengesampingkan peranan sentuhan dalam aktivitas seksual. Dalam Hatfield tahun 1994 dinyatakan sentuhan merupakan dimensi penting dalam perkembangan manusia, kesehatan, dan seksualitas. Sentuhan merupakan indera dasar dari seluruh indera yang ada menurut Ashley Montagu. Mengingat reseptor pada kulit mampu berespon atas berbagai bentuk stimulasi. Meski berbeda makna kedalamannya dalam setiap budaya, namun tak ada indikasi perbedaan sentuhan pada laki-laki dan perempuan menurut berbagai penelitian dalam Bryan Strong dkk. (2005) di buku mereka Human Sexuality.


William Masters dan Virginia Johnson mengusulkan perlu ada sentuhan yang tak selalu bermakna sebagai awal aktivitas seksual. Disebut pleasuring, sentuhan-sentuhan yang justru bukan di organ intim. Ditujukan untuk meningkatkan kenyamanan Anda bersama pasangan. Bahkan Anda belajar saling mengeksplorasi bagian-bagian dari tubuh Anda dan pasangan yang peka terhadap sentuhan. Saling mengarahkan, memberi respon tentang apa yang Anda rasakan memudahkan Anda mengenali tubuh satu dengan lainnya.


Pleasuring penting. Mengingat makna sentuhan tak selalu sama bagi Anda dan pasangan. Bisa bermakna aman, menunjukkan kedekatan, atau justru permulaan aktivitas seksual. Bila sentuhan merupakan masalah dalam hubungan Anda dan pasangan, cobalah untuk sekedar memberi pleasure satu sama lain.


Tak perlu kecewa ketika sentuhan menghasilkan kenyamanan yang berbeda antara Anda dan pasangan. Nikmati saja ‘pesan’ yang tersampaikan lewat sentuhan.

Senin, 30 Juli 2012

Mengaku Anti-Bullying? Introspeksi Dulu,
Jangan-Jangan Punya Mentalitas-Bully!

Adanya indikasi bully di acara MOS (Masa Orientasi Sekolah) sebuah sekolah swasta di daerah Jakarta Selatan baru-baru ini cukup menghebohkan. Seolah mengingatkan kembali pada kasus-kasus bully yang dulu juga sempat marak di berbagai acara orientasi mahasiswa. Ternyata bullying masih eksis? Konon malah semakin sadis.

Ada penyekapan, penyiksaan, hingga melibatkan aksi penyundutan dengan rokok. Banyak yang protes, terlihat dari ramainya sikap yang ditunjukkan di ranah twitter hingga tindakan tegas pihak kepolisian dan komisi III DPR yang mulai mempertanyakan keberadaan MOS di sekolah.

Di tengah sikap #AntiBullying tak banyak yang sungguh-sungguh memahami aksi bully itu sendiri. Bully merupakan suatu bentuk perilaku agresif yang melibatkan paksaan, tekanan, dan kekerasan pada orang lain. Bully umumnya tak hanya dilakukan satu kali, melainkan terus menerus khususnya ketika ada kekuatan yang tidak seimbang antara pelaku dan orang yang menjadi target bully.

Bully tak hanya kekerasan yang ditunjukkan secara fisik, seperti kekerasan lainnya, bentuk kekerasan secara verbal dan emosional pun tergolong ke dalam aksi bully. Aksi bully secara umum khas menunjukkan adanya intimidasi.

Aksi bully bisa terjadi terus menerus dan berlangsung seperti lingkaran setan. Mereka yang pernah di-bully rentan untuk kelak melakukan aksi bully yang sama ketika memiilki kesempatan untuk menampilkannya. Itu sebabnya langkah preventif dalam mengembangkan gerakan anti bully justru dimulai dari diri sendiri. Melakukan introspeksi.

Terlepas memiliki karakter pe-bully atau tidak, jangan-jangan kita punya #MentalitasBully . Beberapa catatan penelitian memang banyak memberi gambaran tentang karakter pe-bully, seperti; dominan, arogan, hingga narsis, dan agresif. Ada pula yang mengatakan bahwa aksi bully bisa jadi merupakan manifestasi dari kecemasan dan perasaan tak berdaya yang dilampiaskan dalam bentuk sebaliknya, yakni mengintimidasi orang lain. Juga ada catatan bahwa pe-bully bisa jadi mereka yang sedang cemburu atau envy pada target nya.

Namun tak banyak yang sadar, aksi bully bukan sebatas intimidasi senior terhadap yunior dalam MOS. Aksi bully berisiko terjadi dalam berbagai konteks, like everywhere. Selama ada interaksi antar manusia, bully bisa saja muncul di sana. Di sekolah, rumah, lingkungan tetangga, tempat ibadah, lingkungan kerja atau kantor, di kelompok sosial, bahkan dalam dunia cyber, dan sebagainya. Di tengah sikap keras anti bully yang disyiarkan di berbagai media, bisa saja kita dalah salah satu pelaku atau orang yang secara sadar tak sadar masih memelihara mentalitas bully di dalam diri.

Berikut ini merupakan tindakan khas dari mereka yang memiliki mentalitas bully.
• Senang mengintimidasi atau mempermalukan hingga melakukan sabotase pada rekan kerja di kantor atau di institusi terkait pekerjaannya. • Memaklumi senioritas yang semena-mena, baik dilingkungan kantor, universitas, lingkungan prraktek kerja, atau sekolah, dan turut menikmatinya. • Berlaku seenaknya dan tidak menghargai kaum minoritas maupun mereka yang cacat • Senang menyebar rumor atau gosip tentang orang lain bahkan menekan siapapun yang ingin berteman dengannya, mengolok-olok caranya berpakaian atau pilihan orientasi seksualnya. • Mengintimidasi seseorang melalui media teknologi, seperti via email, social media, misal; mengata-ngatai seseorang, menebar teror, atau fitnah.

Menghentikan bully hanya bisa dilakukan bila semua individu sepakat dalam memaknai bully dan setuju untuk tak lagi memelihara mentalitas bully dalam diri sendiri. Let’s say: Stop Bullying!

Senin, 05 Desember 2011

Anak Eksis di Media Sosial

Is the stage too big for kids? Rasanya pertanyaan ini tepat dijadikan acuan dalam memahami eksis nya anak di media sosial.

Media sosial merupakan media ajang interaksi sosial yang melibatkan teknologi berbasis internet. Mungkin saat ini kita hanya kenal dengan beberapa media sosial seperti Facebook dan Twitter. Sebetulnya ada sejumlah bentuk media sosial. Kaplan dan Haenlein membuat pembagian media sosial dalam enam tipe, yang mereka tampilkan dalam artikel “Business Horison” terbit tahun 2010 silam, antara lain: proyek-proyek kolaborasi (seperti Wikipedia), blogs dan microblogs (mis. Twitter), komunitas konten (seperti Youtube), situs jejaring social (mis. Facebook), game virtual (World of Warcraft), dan dunia sosial virtual (Second Life).

Pada dasarnya, beberapa media sosial memberi batasan usia bagi siapa saja yang bisa bergabung didalamnya. Seperti Facebook, batas usianya adalah tiga belas tahun. Tentu ada sejumlah alasan, mengapa anak di bawah usia tersebut tidak diperbolehkan memiliki akun Facebook. Orang tua diharapkan peka memahami alasan ini dengan pertimbangan karakter anak dan risiko yang mungkin muncul.

Karakter Anak
- Secara umum kemampuan berpikir anak tergolong konkrit. Dalam pengertian mereka hanya mampu berpikir tentang apa yang saat itu sedang terjadi dan terlihat di depan matanya. Sehingga belum memiliki kemampuan yang memadai untuk bisa memprediksi dampak dari tindakannya di kemudian hari. Itu sebabnya anak sukar diharapkan untuk bertanggung jawab sepenuhnya atas tindakan yang dilakukan.
- Anak dalam tahap usia tertentu, seperti preteen dan teen, sedang getol-getolnya berpusat pada diri sendiri. Sehingga kerap mengumbar diri secara berlebih dari yang seharusnya

Risiko pada Anak
- Anak kerap tak memahami bahkan “lupa”, siapa saja yang bisa melihat status-statusnya, komentarnya, atau photo dan video yang diunggah. Anak belum memahami bahwa saat on-line, ia benar-benar terhubung dengan seluruh dunia. Siapa pun, bila tidak dibatasi, akan bisa melihat dan terhubung dengannya. Entah orang asing, pelaku kriminal, pedofil, dan sebagainya. Jejaring media sosial bisa dikatakan terlalu besar untuk anak. Yang konkrit bagi mereka, mereka sedang “berbicara” pada laptop atau gadgetnya. Jangankan anak, orang dewasa saja terkadang “lupa” akan kondisi ini.
- Aksi mengumbar diri dan emosi secara berlebih rentan untuk disalahgunakan pihak luar yang tak bertanggung jawab. Bahkan terkadang mereka curhat tentang keadaan orang tua atau mengungkapkan kemarahan pada teman dan guru di statusnya. Mereka sukar menyadari Apa yang sudah terpapar ke media sosial kerap akan tetap ada di sana secara permanen. Dalam arti akan selalu ada sampai kita menghapusnya. Bahkan kita terkadang gagal menghapusnya bila sudah terlempar ke semua orang yang terhubung di media sosial.

Tindakan Orang Tua
- Orang tua sejak awal harus lebih dulu memahami dan menyadari apa itu media sosial dan sejumlah dampak atau konsekuensi yang mungkin bisa terjadi ketika sudah bergabung didalamnya. Melepas anak di media sosial dengan memberi mereka password tanpa memberi arahan dan persiapan, ibarat melepas anak menyetir mobil sendiri dan memberi mereka kunci tanpa mengajarkan kepada mereka terlebih dahulu bagaimana caranya menyetir. Apakah anak tidak layak menyetir mobil? Tentu mereka layak nanti di usia tertentu dan setelah memperoleh latihan. Layakkah anak punya akun media sosial? Layak di usia tertentu dengan catatan setelah memeroleh sejumlah bimbingan dan arahan dari orang tua. Jangan pernah membiarkan anak memiliki akun Facebook bila belum berusia tiga belas tahun atau memiliki akun Twitter sementara orang tua tak punya akun Twitter dan tak mengerti apa itu Twitter.
- Orang tua dapat mengintip sejumlah tips yang banyak beredar di internet, misal di website common sense media atau bertanya pada pakar.
- Bila anak memiliki akun pastikan orang tua memantau dengan cara mendiskusikan bersama anak secara rutin aktivitasnya. Mengingatkan mereka bahwa media sosial tetap sebuah ruang publik. Aktivitas pertemanan secara on-line similar dengan pertemanan di dunia nyata atau off-line. Sehingga orang asing tetaplah orang asing dan rahasia diri dan keluarga tetap rahasia.

Selasa, 22 Maret 2011

Mengajarkan Anak Mengenal Uang & Berhemat


Hello parents.. Just check it out, before you read the article..
Parents small test
Pertanyaan

1. Apa yang dilakukan anak Anda terhadap uang hadiah (uang salam tempel/angpau) atau uang sakunya (harian/bulanan)?
a. Belum mengenal uang b.Digunakan jajan c.Ditabung d.Digunakan jajan & ditabung
2. Mampukah anak Anda berbelanja di warung/swalayan/minimarket?
a. Tidak/belum pernah b.Ya
3. Mampukah ia menentukan uang kembalinya?
a. Tidak b.Ya
4. Apakah anak Anda memiliki tabungan sendiri?
a. Tidak b.Ya
5. Apakah anak Anda memiliki penghasilan pribadi?
a. Tidak b.Ya

Skoring
 a = 0 b = 1 c = 2 d = 3
 Jumlahkan
 Skor tertinggi = 7
 Skor terendah = 0

Arti skor
 0 = belum mengenal uang
 1 – 3 = hanya mengenal uang
 4 – 7 = mampu mengelola uang

Miskonsepsi tentang Uang
Ada sejumlah hambatan yang menghalangi anak memahami konsep uang dengan tepat. Antara lain;
 Uang bukan untuk ANAK-ANAK
Sejumlah orang tua dengan sengaja tidak memberikan uang pada anaknya karena khawatir anak tidak mampu menyimpan dan mengelola uang yang diberikan kepadanya. Beberapa di antara orang tua tidak memebrikan uang pada anak dalam usaha mencegah anak memebelanjakan uangnya guna membeli penganan atau snack yang tidak sehat. Padahal tindakan ini justru memebuat anak menjadi tidak paham uang dan terdorong untuk sukar mengendalikan dirinya sendiri.
 Uang “mudah” diperoleh (seperti mengambil uang di ATM)
Sejumlah orang tua ‘seolah” ingin menunjukkan pada anaknya, betapa uang mudah diperoleh. Tekadang tindakan ini tidak disengaja. Ketika orang tua mengambil uang di mesin ATM, pastikan anak-anak paham bahwa uang tidak diambil begiu saja di mesin ATM. Uang dari mesin ATM adalah uang yang kita simpan dengan memasukkan uang lebih dulu ke bank.
 Uang semata untuk “jajan”
Penggunaan istilah uang jajan adalah tidak tepat. Seolah uang diberikan kepada anak dengan tujuan untuk dibelanjakan membeli jajanan. Padahal uang yang diberikan kepada anak sebaiknya tidak melulu untuk belanja. Sebagian disimpan untuk dijadikan tabungan tentu lebih baik dampaknya bagi anak. Sehingga penggunaan “uang saku”lebih tepat.

Sangat penting bagi anak untuk memahami konsep uang sejak dini. Yakni ketika anak sudah mulai tertarik mempelajari berbagai konsep, seperti hewan, tumbuhan, warna, bentuk, ajarkan pula padanya konsep tentang uang. Tahukah Anda, bahwa pemahaman akan konsep uang merupakan salah satu keterampilan adaptif. Keterampilan adaptif adalah kemampuan anak untuk dapat berfungsi dengan baik dalam menghadapi tantangan dari lingkungan.

Tahap mengajarkan Anak Kelola Uang
1. Mengenalkan
Beri anak uang, ajarkan perbedaan nilai.
Nilai uang dapat dijadikan “alat tukar” universal
2. Menghasilkan
Jadikan uang sebagai reward atas usaha-usahanya, a.l
1. Memeroleh nilai tinggi di sekolah atau prestasi atas aktivitas yang diikutinya
2. Disiplin: mengerjakan PR/belajar/melakukan aktivitas reguler (ibadah, merapikan kamar, dll)
Kenalkan entrepreneurship
3. Menggunakan
Memberi uang saku
Membeli kebutuhan
4. Menyimpan
Set goals, berupa rencana anak ke depan untuk memiliki sesuatu sehingga menjadi alasan baginya untuk menyimpan uang.
Beri celengan
Ajak ke bank, ketika jumlah tabungan di celengan sudah memadai.