Tampilkan postingan dengan label Artikel. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Artikel. Tampilkan semua postingan

Selasa, 22 Maret 2011

Menjadi Full Time Mom (FTM) adalah Pilihan!

“Ohhh.. ibu rumah tangga?” pertanyaan ini kerap disampaikan dalam nada sinis. Lucunya, justru sering keluar dari mulut perempuan dan ditujukan kepada sesama perempuan yang rela “menyerahkan diri” sebagai full-time mother (FTM). Pertanyaan yang seolah merampingkan peran seorang ibu yang full-time ada di rumah.

Tak banyak yang menyadari, justru peran menjadi FTM tak kalah berat dengan working mom bahkan half-time working mom. Bila seorang working mom menghabiskan sekitar delapan hingga sepuluh jam waktunya untuk bekerja di luar rumah maka seorang FTM menghabiskan seluruh waktu tadi untuk mengurus anak hingga mengurus segala tetek bengek domestik alias urusan rumah tangga.

Bahkan tak jarang seorang FTM mengemban tuntutan yang lebih tinggi dari suami, orang tua, mertua, hingga lingkungan sekitarnya untuk dapat mengasuh anak, mengurus rumah berikut suami, melebihi seorang working mom. Dan perlu dicatat, tanpa gaji dan uang lembur. Karena FTM tak pernah dianggap sebagai pekerjaan melainkan hanya sebuah kegiatan yang sudah sepantasnya dilakukan oleh seorang istri dan ibu. Bahkan tak jarang mereka diberi istilah magabu suami alias makan gaji buta dari suami.

Sejumlah klien saya, yang terpaksa berkarir sebagai FTM, cenderung mengeluh tentang beratnya tuntutan yang dibebankan di atas pundak mereka khususnya yang berkaitan dengan pengasuhan dan tugas-tugas domestik. Tak jarang mereka harus menghadapi kenyataan sebagai satu-satunya kambing hitam saat anak-anak bermasalah di sekolah termasuk saat urusan rumah tangga tak dapat di-handle dengan baik. Termasuk menghadapi kenyataan saat suami enggan diminta turut berbagi peran di rumah. Dengan alasan. FTM sudah cukup mendapat jatah untuk ”enak-enakan” ada di rumah. Bebas macet, konflik dengan atasan dan rekan, berkesempatan tidur siang dan bersantai sepanjang hari. Padahal, peran ayah tetap dibutuhkan dalam pengasuhan anak karena mmebawa atmosfir ynag berbeda dalam pengasuhan.

Itu sebabnya sejumlah FTM diketahui justru jauh dari perasaan bahagia dan sejahtera. Khususnya ketika peranan sebagai FTM merupakan sebuah kondisi yang dipaksakan. Bukan sebuah pilihan. Akibat tuntutan suami dan keluarga atau karena memiliki anak dengan kondisi tertentu. Bahkan FTM pun rentan akan stress, terutama bila power seutuhnya ditentukan dan dipegang oleh suami, sebagai satu-satunya tokoh bread winner di rumah, seperti pengambilan keputusan, keuangan, dan lain sebagainya.

Padahal perasaan bahagai dan sejahtera seorang ibu penting bagi pegasuhan yang optimal pada anak, terutama saat membangun kehangatan dan kelekatan. Hubungan yang hangat dan lekat penting bagi perkembangan psikososial pada anak. Tak hanya pengasuhan anak yang turut terpengaruh ketika kondisi ibu tak bahagia. Termasuk juga hubungan suami istri, mengingat sumber emosi di rumah berpusat pada seorang ibu.
FTM juga rentan akan perasaan diri tak berharga serta perasaan-perasaan tak percaya diri lainnya maka kondisi ini dapat berbanding terbalik dengan sejumah working mom. Working mom umumnya jauh lebih kompeten dan memiliki perasaan diri berharga yang baik. Mereka pun tergolong aman dan independent secara finansial.

Namun sekali lagi, tak perlu berkecil hati, saat FTM menjadi pilihan karir Anda. Karena sebetulnya tingkat kepuasan ibu terletak bukan pada peran sebagai FTM atau working mom. Melainkan ditentukan oleh, apakah kondisi menjadi FTM maupun working mom merupakan pilihan atau sebuah keadaan yang terpaksa?

Tentu saja peranan suami pun penting artinya bagi kepuasan ibu, baik yang FTM maupun bekerja. Ibu-ibu akan jauh lebih sejahtera saat memiliki pasangan yang bersedia berbagi peran dan memberi kontribusi yang adil dan seimbang di rumah.

3 Langkah FTM to the max!
- Pastikan menjadi FTM adalah pilihan Anda. Ketka Anda merasa terpaksa dan tetap ingin bekerja, temukan celah yang memungkinkan Anda untuk tetap memulai karir dari rumah. Tak ada gunanya bila Anda memilih menjadi FTM namun selalu mengeluh dan menyesali keadaan diri.
- Me-time, penting! Ingat, meski anda seorang istri dan ibu, Anda tetap seorang individu yang independent. Pastikan Anda memiliki waktu luang untuk diri sendiri, tanpa embel-embel membawa anak dan urusan rumah tangga. Saat melakukan aktivitas yang menjadi hoby dan minat anda. Me time penting agar Anda merasa berharga dan independent.
- Go social. Pertemanan tetap dibutuhkan agar Anda tetap memiliki kehidupan sosial ala wanita dewasa. Bersama dengan anak dan suami sepanjang waktu tak bisa menggantikan peran teman-teman perempuan dalam hidup Anda. Kehidupan sosial meningkakan perasaan sejahtera.

Minggu, 20 Maret 2011

Build a Career Life or Just Have a Job?


Suatu sore, saya berkumpul bersama sejumlah teman perempuan. Meski terdengar rumpi, ada banyak isu yang terlontar dalam percakapan. Salah satunya tentu saja berbau curhat ketika salah seorang teman memperdebatkan bahwa ketika perempuan bekerja tentu perempuan tersebut melakukannya karena terpaksa bukan karena dia menyukainya. Teman saya sukar mempercayai bahwa ada orang yang bekerja karena orang tersebut mencintai pekerjaannya. Most of them setuju. Mereka yang rata-rata kebetulan bekerja 9 to 5 dan bekerja rutin mengatakan “seandainya boleh memilih mereka akan lebih senang berada di rumah dari pada bekerja di kantor.” Semua sependapat, kecuali saya.

Semua tahu persis bahwa saya memilih berkarier. Keputusan tersebut atas dasar pilihan bukan karena terpaksa. Terjadilah perdebatan yang tak berujung. Karena perbedaan penghayatan.

Di rumah saya berusaha memahami sikap sejumlah teman perempuan tadi. Rasanya tak hanya teman perempuan saya yang mengalaminya. Sejumlah perempuan pun laki-laki di luar sana banyak yang mengalaminya. Saya berusaha menganalisis dimana letak perbedaan penghayatan apa yang membuat beberapa orang, seperti saya, merasa begitu memeroleh energi yang kuat saat bekerja sementara sebagian lain tidak. Bekerja membuat mereka lelah dan merupakan pilihan yang ingin dihindari seandainya keadaan keuangan mencukupi.

Betul, kenyataannya sebagian besar orang bekerja karena uang. Kenyataannya kehidupan memang semakin sulit. Ada joke yang pernah dilontarkan suami saya, “tahun 80-an suami bekerja sudah mampu membuat keluarga hidup sejahtera. Di era 90-an suami dan istri bekerja baru-lah keluarga dapat hidup sejahtera. Sementara di tahun 2000-an, meski suami dan istri sama-sama bekerja kehidupan keluarga tetap belum sejahtera.

Diakui, kondisi ini menerpa hampir semua keluarga. Sehingga bagi kebanyakan orang, bekerja menjadi sebuah kewajiban akibat sejumlah kebutuhan yang terpaksa harus ditutupi. Bekerja akhirnya benar-benar berfungsi sesuai dengan maksudnya, yakni menghasilkan nilai. Dalam konteks ini nilainya berupa uang. Apakah Anda sedang berada dalam kondisi di atas? Bekerja karena terpaksa? Bekerja hanya karena uang alias selalu BU (Butuh Uang)? Bila ya, kasihan sekali. Anda memang sedang “benar-benar bekerja.”

Tahukah Anda, bekerja rutin mengerjakan aktivitas yang cenderung sama berulang-ulang sebagai sebuah kewajiban dalam keadaan terpaksa dapat membuat Anda mengalami tekanan hingga mengalami burnout?

Disitulah akarnya. Mengapa pekerjaan kemudian dihayati sebagai sebuah beban yang seandainya boleh memilih ingin dibuang saja dari kehidupan.
Padahal, melakukan kegiatan bekerja memiliki dampak besar positif bagi pengembangan diri dan emosi. Dalam pendekatan positive psychology, kehidupan karier yang memuaskan merupakan salah satu kunci penghayatan perasaan well-being alias sejahtera. Membuat Anda merasa berharga, berarti, kompeten, dan memiliki kontrol atas diri pribadi.

Apa yang membuat kondisinya begitu berbeda? Ada orang yang begitu terbebani dengan pekerjaan sementara yang lain memeroleh energi dan “kehidupan” dari pekerjaannya dan melihat uang yang diperoleh dari pekerjaan hanya sebagai bonus?

Jawabannya, sebagian besar orang hanya memiliki pekerjaan. They just have a job. Sehingga sukar untuk melihat pekerjaan sebagai sebuah passion dan sumber energi kehidupan.

Sementara sebagian yang lain, bekerja justru menumbuhkan perasaan bahagia dan sejahtera. Pekerjaan dihayati sebagai kehidupan karier yang sedang dibina. Secara perlahan (step by step) mencapai goals yang dianggap sesuai dengan nilai kehidupan pribadi.

Karena pekerjaan adalah sebuah karier yang sedang dibangun, mereka yang menyintai pekerjaannya selalu tergerak melakukan sesuatu untuk membuat karir-nya berkembang. Mereka memiliki passion atas kehidupan karirnya. Mereka adalah the right person yang telah menemukan the right place untuk dirinya.

Apakah orang yang bekerja karena terpaksa adalah the right person? Of course, semua orang the right person. Hanya saja mereka belum berada pada the right place. Kalau Anda bernasib sama dengan orang-orang yang belum mampu menyintai kehidupan karir dan really into it, Anda tentunya belum memiliki rahasia dalam menghadapi tantangan karir. Saya menyebutnya ASA.

ASA tidak hanya dipahami sebagai harapan seperti yang seharusnya. ASA dalam konteks ini merupakan akronim dari Analysis, Self-Enrichment, dan Action.

Analysis, merupakan kunci pertama dalam pengembangan kehidupan karier dan pribadi. Dengan senantiasa memahami SWOT (Strengths, Weaknesses, Opportunity, Threat) Anda akan mampu memahami karakter diri Anda. Memahami kekuatan dan minat pribadi Anda memudahkan untuk memahami the right place yang tepat untuk Anda. Ingatlah, there’s always the right person. Orang menyintai pekerjaannya karena mereka berada di tempat yang tepat, the right place. Memahami area pekerjaan yang tepat untuk Anda salah satunya dapat Anda lakukan dengan memahami orientasi pribadi.

Apa orientasi pribadi Anda? Model Hexagonal dari John Holland rasanya bisa membantu. Ia membuat enam tipe orientasi pribadi yang dilandasi riwayat hidup dan faktor hereditas sehingga individu bersangkutan akan tertarik pada jenis atau area pekerjaan tertentu yang dirasa memenuhi kebutuhan pribadi dan mendatangkan kepuasan. Antara lain; Realistik, Investigatif, Artistik, Sosial, Enterprise, dan Konvensional.

Memahami kekuatan dan orientasi pribadi memudahkan Anda menciptakan peluang atau opportunity bagi kehidupan karir Anda. Bahkan membuat Anda mampu mengendalikan segala kelemahan dan ancaman agar tidak mengganggu proses Anda dalam menciptakan dan memeroleh peluang.

Self-Enrichment, merupakan kunci kedua dalam megembangkan kehidupan karier dan menjadikan Anda mencintai pekerjaan Anda. Mengingat trend dunia karir saat ini yang menguntungkan individu-individu yang mampu menjadi active-agent, individu yang mampu mengembangkan diri dan skills-nya, tidak heran, bila mereka yang mencintai pekerjaan selalu terdorong untuk mengembangkan diri. Belajar kembali, mengikuti training atau kursus yang dapat membuat mereka selalu berkembang menguasai tantangan karier yang ada. Tidak hanya berpusat pada hard skills melainkan juga mengembangkan soft skills.

Action, merupakan kunci terakhir. Ketika Anda melakukan tindakan tertentu, seperti melakukan self-enrichment, saat itulah Anda menyadari, betapa Anda telah berproses mendekati image ideal Anda tentang diri sendiri. Mendekati goals pribadi yang ingin Anda capai dan menikmati proses yang Anda jalani karena Anda menginginkannya. Melakukan apa yang menjadi passion dan tujuan hidup Anda.

Menghayati kehidupan sebatas kehidupan faktual, tak membuat Anda kemana-mana. Saat Anda berhenti dan hanya menjalani kehidupan yang itu-itu saja, kehidupan yang biasa, saat itulah Anda hanya “sedang bekerja.” Saat Anda terdorong melakukan apa yang seharusnya Anda lakukan, Anda sedang “membangun karier.” Ketika membangun, Anda dalam proses. Tak ada kata terlambat dalam membangun kehidupan karier, karena proses berkarier merupakan proses seumur hidup.

Apapun pilihan Anda, stay at home or build a career life, pastikan Anda menikmatinya. Saat ini saya menikmati pekerjaan saya. Because I build my career life. Have you?

Kamis, 15 Oktober 2009

Siap Menikah?


Ticktockticktockticktock..
Begitu detak jarum on the clock. Clock bukan sembarang clock. Clock yang satu ini berkaitan dengan kehidupan bersama orang lain, namanya social-clock. Berdasarkan social-clock, di Indonesia tepatnya dan di Jakarta serta di sejumlah kota besar lain khususnya, usia menikah yang berlaku umum adalah dua puluh-an. Persis seperti yang dicetuskan oleh salah seorang tokoh di bidang Psikologi, Erik Erikson.
Di usia tersebut, setiap orang bersiap mencari partner hidup. Social-clock menjadi penting. Karena patokan menikah diukur dari kebanyakan orang. Kebanyakan orang menikah di usia dua puluhan. Sehingga ketika Anda berusia tiga puluhan dan belum menikah, Anda merasa ticktockticktock.. Padahal yang paling penting sebelum memutuskan menikah adalah ke-siap-an Anda secara pribadi.
Mungkin Anda akan bertanya-tanya, mengapa menikah penting? Tahukah Anda, penelitian tentang kebahagiaan, khususnya dalam area Psikologi Positif, menemukan bahwa pilar kebahagiaan yang paling utama adalah kehidupan sosial bersama teman dan berada dalam cinta. Cinta yang dimaksud di sini tentu saja cinta yang hangat dan menetap. Tidak heran bila banyak penelitian (seperti yang dituliskan dalam buku Philip Rice: Intimate Relationships, Marriages, and Families) yang mengatakan, bahwa pada usia dewasa, mereka yang menikah merasa lebih bahagia dan sejahtera dibandingkan mereka yang tidak menikah. Surprising fact, right?
Mengingat pentingnya arti pernikahan, selain alasan ibadah, dalam kehidupan manusia yang memang ditakdirkan sebagai makhluk sosial, saatnya Anda mulai memikirkan nasib hubungan cinta Anda bersama pasangan. Akan segera berakhir di pernikahan atau tidak. Masalahnya, siap kah Anda untuk menikah?
Untuk menilai kesiapan Anda, pastikan Anda sudah mempertimbangan beberapa hal di bawah ini;

- siap berkomitmen
pastikan bahwa Anda siap menjalin komitmen berdua dengan pasangan. Dalam pengertian siap menjalani hubungan yang eksklusif. Tidak melibatkan pihak ketiga baik secara emosional maupun seksual.
- kesediaan memiliki tanggung jawab
pastikan bahwa saat menikah kelak Anda siap bertanggung jawab. Siap memerhatikan kesejahteraan pasangan, siap menjadi orang tua, bahkan siap menjadi tulang punggung keluarga, yang akan bekerja dan mengurus rumah tangga.
- siap untuk tidak bergantung pada orang tua
pastikan bahwa Anda bukanlah orang yang bergantung secara emosional pada orang tua. Saat menikah kelak, pemenuhan kebutuhan emosional akan ditujukan kepada pasangan. Sehingga loyalitas pun ditujukan kepada pasangan. Demikian pula kehidupan finansial. Pastikan Anda mampu membiayai kehidupan Anda sendiri. Masalah finansial menjadi penting karena turut menentukan pengaruh dan power yang ada dalam hubungan. Pastikan power tidak lagi terletak pada orang tua. Melainkan pada Anda dan pasangan, sebagai penentu jalannya kehidupan berumah tangga.
- memiliki alasan positif untuk menikah
sejumlah orang menikah hanya karena ingin ”lari” dari situasi yang dianggap sulit, seperti keluarga yang sedang susah secara finansial, orang tua yang sangat keras, pelarian dan aksi balas dendam terhadap pacar lama, bahkan karena alasan hamil sebelum menikah. Pernikahan bukan jawaban atas masalah-masalah pribadi yang muncul. Pernikahan jusru sebuah komitmen baru untuk dapat hidup bersama dengan orang lain yang akan menjadi partner seumur hidup. Dengan tujuan membangun visi dan misi bersama dalam cinta. Misal, ingin punya teman di masa tua, ingin membesarkan anak dan cucu bersama, ingin mengembangkan diri bersama sambil menjalankan ibadah, dan masih banyak lagi. Pastikan Anda menikah bukan karena alasan yang tak ada kaitannya dengan Anda dan pasangan.

Sekarang, Anda sudah merasa siap menikah?
Bila Anda masih ragu, dengan alasan, is he/she the one? Pastikan Anda membaca artikel minggu depan. Tentang PASANGAN YANG TEPAT DAN TIDAK UNTUK DIJADIKAN PARTNER HIDUP..

Senin, 14 September 2009

Mengurai Amarah, Memberi Maaf

Bagi sebagian orang menyimpan dendam terasa lebih menyenangkan dari pada segera mengakhirinya dan memaafkan. Menyimpan dendam seolah “melepaskan” mereka dari tanggung jawab bahwa mereka turut berperan dalam menentukan apa yang mereka rasakan. Menyimpan dendam membuat mereka memiliki alasan untuk tetap membenci dan menahan amarah. Bagaimana dengan kita?


Terjebak dalam Lingkaran Dendam

Tahukah, dendam dan kemarahan dapat membuat kita terjebak dalam ketidakbahagiaan dan penghayatan diri yang negatif?
Perasaan marah, benci, dendam merupakan emosi-emosi negatif yang menghalangi kita untuk dapat menikmati hidup dan merasakan kebahagiaan. Menumpuk emosi negatif menempatkan kita ke dalam lingkaran dendam.
Saat marah, ada kebutuhan untuk menyalurkan kemarahan dengan cara tertentu. Selalu ada dorongan untuk membalas, dengan cara yang kira-kira seimbang atau lebih dari tindakan yang membuat marah, diiringi dorongan untuk membenci dan mendendam.
Setelah menyalurkan kemarahan, kita pikir kita merasa senang. Puas. karena kita merasa menang, merasa lebih. Padahal perasaan itu hanya sementara.
Kenyataannya, perasaan yang datang kemudian justru sebaliknya.
Merasa lebih buruk tentang diri sendiri dan merasa bersalah. Karena telah melakukan tindakan-tindakan yang sesungguhnya bertentangan dengan hati nurani.
Tak seorangpun ingin merasa salah dan disalahkan. Untuk membenahi perasaan negatif yang muncul, kita kemudian berusaha melakukan penyangkalan.

Bahwa setiap tindakan yang kita lakukan hanya untuk membalas. Hanya sebagai reaksi atas aksi tak menyenangkan yang telah lebih dulu dilakukan orang lain. Jadi si orang lain yang selayaknya bertaggung jawab atas semua rasa yang kita punya.
Orang lain yang seharusnya layak untuk dibenci dan diperlakukan buruk. Karena ia membuat kita terjebak dalam perasaan negatif berulang. Itu sebabnya benci dan dendam bila tak segera dibenahi dan dihilangkan akan mendorong kita untuk selalu kembali membalas, membenci, dan mendendam dalam waktu yang berkepanjangan.
Begitu terus sehingga kita tidak pernah berdamai dengan diri sendiri, orang lain, dan jauh dari perasaan bahagia.


Mengurai Amarah Terjebak dalam lingkaran amarah dan dendam, tak pernah mendatangkan kebahagiaan. Keadaan itu sudah terbukti tak hanya pada sejumlah klien-klien saya, di Rumah Sakit Pondok Indah, namun juga dari sejumlah penelitian dan tulisan yang membahas tentang kemarahan dan dendam.
Padahal untuk hdup dalam kebahagiaan atau tidak, adalah pilihan. Bila menginginkan kebahagiaan, segera benahi amarah dan dendam yang kita punya. Ingat, amarah dan dendam hanyalah sebuah emosi yang berada di dalam diri. Segala sesuatu yang ada di dalam diri, merupakan tanggung jawab kita pribadi. Kita yang memiliki rasa marah dan dendam. Artinya kita yang dapat memunculkan dan menghilangkannya kembali.
Tak sesukar yang dibayangkan. Apalagi, kejadiannya pun sudah lewat. Hanya perlu sedikit membuka horison dalam berpikir. Agar sedikit lebih luas. Sehingga kita mampu mengubah dan memperbaiki penghayatan kita atas apa yang telah terjadi.

1. menerima kemarahan orang kerap keliru memahami point ini. Menerima kemarahan bukan berarti membiarkan perlakuan semena-mena orang lain atas diri kita. Tapi bukan pula menyangkal kemarahan. Beberapa orang sering menyangkal kemarahan. Karena merasa tak ingin terpengaruh oleh sejumlah tindakan tak menyenangkan dari orang lain. Kenyataannya, ia terpengaruh. Ingat, kita punya hak untuk marah. Terutama pada saat kita memeroleh perlakuan tak menyenangkan. Merasa marah, adalah kondisi yang normal. Menjadi tak normal bila kemarahan ditampilkan secara berlebih. Apalagi sampai mendendam. Agar kemarahan tak berlebih dan berakhir dalam dendam, kita butuh membuat pengakuan pada diri bahwa “saya marah.”

2. memahami sumber kemarahan pahami, ”apa” yang membuat kita marah. Bukan ”siapa” yang membuat marah. Fokus pada ”siapa,” hanya membuat kita terdorong untuk melakukan pembalasan pada orang tadi. Sementara fokus pada ”apa,” membuat kita memahami kemarahan dan diri sendiri dengan lebih baik. Katakan “saya marah karena cinta saya dikhianati” ketika cinta kita diduakan dan kemudian ditinggal pergi. Atau mengatakan “saya enggak suka, karena saya merasa direndahkan” saat ada atasan yang dengan sengaja mencela dan menjatuhkan kita.

3. pahami dari “other’s-shoes” kemudian letakkan diri kita untuk melihat kejadian ini dari beberapa sudut pandang. Dari sudut pandang kita tadi sudah. Kita merasa marah karena apa yang terjadi. Misalnya, karena dikhianati, direndahkan. Kemudian lihat dari perspektif orang yang melakukan tindakan. Contoh, ketika diduakan. Pahami, apa yang membuat pasangan berselingkuh? Saat pasangan berselingkuh tentunya karena dia merasa ada masalah dalam hubungannya dengan kita. Apa masalahnya? Dimana kesalahannya? Tak perlu ditelusuri lebih jauh bila si dia sudah pergi dan berlalu. Apalagi sampai menyalahkan diri sendiri dan kemudian terpuruk dalam perasaan tak berdaya, marah, dan dendam. Yang pasti, ketika bermasalah semestinya pasangan membahasnya. Kenyataannya, dia tidak melakukan itu. Dia lebih memilih menjalin hubungan dengan orang lain dan kemudian berlalu begitu saja. Artinya, saya berhenti di sini untuk memahami dari perspektifnya. Karena apapun masalahnya, dari sudut pandang dia, hanya dia yang tahu. That's all.
Sama, ketika direndahkan, pastikan kita memahami apa yang membuat atasan begitu merendahkan kita. Namun tetap hanya sebatas, ”bahwa dia tengah bermasalah.” Apakah dia tengah merasa terancam dengan keberadaan kita, sedang tak bahagia, atau apapun itu, hanya dia sendiri yang tahu. Bila dia ingin membicarakannya akan lebih baik. Mudah membahasnya saat dua orang yang terlibat bersedia berkompromi. Tapi bila tidak, yang kita butuhkan hanya melihat kejadian ini dari sudut pandang yang lebih baik. Bahwa dia tengah mengalami sesuatu. Karena tak ada orang yang dalam keadaan baik-baik saja dan bahagia, bersedia menjatuhkan apalagi merendahkan orang lain dengan sengaja.

4. fokus pada penghayatan saat ini-sekarang setelah melalui tahap di point tiga, apakah kita masih ingin mengumbar kemarahan untuk seseorang yang tengah bermasalah? Orang yang tak tahu tentang tindakannya dan enggan memahami kejadian dari sudut pandang yang lebih baik?
Bila ya, artinya kita membiarkan diri kita untuk ikut bermasalah. Segera gunakan logika anda. Sungguh benar-benar merugi bila kita membiarkan diri kita bermasalah untuk sesuatu yang tak kita mengerti dari orang yang tengah bermasalah. Apalagi bila kejadiannya sudah berlalu. Segera hentikan pikiran tentangnya.
Alihkan pikiran dan perhatian pada orientasi saat ini-sekarang.
Menghayati kejadian yang sudah berlalu atau berandai-andai tentang kejadian yang belum terjadi membuat kita lalai untuk melakukan yang terbaik saat ini-sekarang.
Misal, ketika dia menduakan kita dan pergi berlalu begitu saja. Artinya saat ini, si dia sudah tak ada lagi. Kita masih di sini. Masih punya cinta. tapi orang yang dicinta sudah tak tepat lagi. Artinya cinta yang kita punya perlu dimodifikasi. Tak lagi ditujukan pada pasangan yang sudah pergi. Jadi, fokus saat ini adalah, membenahi emosi cinta dan sakit yang ada. Bisa dengan berbagai cara; curhat bersama sahabat, kembali menjalin pertemanan, dan membagi emosi penuh cinta pada orang-orang terdekat. Ingat, fokusnya adalah membenahi diri sendiri. khususnya saat kita sedang membutuhkan support untuk bisa bangkit kembali. Artinya yang dibicarakan adalah perasaan dan emosi yang kita punya. Bukan membicarakan tentang dia yang sudah pergi. Karena hanya akan mendatangkan kemarahan dan dendam yang baru.
Sama halnya ketika kita merasa direndahkan atau dilecehkan oleh atasan. Setelah sukses melakukan tahap di point tiga, pastikan kita memusatkan perhatian pada apa yang sedang kita alami atau hayati saat ini. Bahwa saat ini, kita adalah pegawai yang bekerja, kita harusnya memusatkan perhatian pada pekerjaan agar optimal. Sudahkah kita optimal? Belajar lebih banyak, memahami setiap tugas dengan baik, dan melakukan sesuatu yang lebih didalamnya. Bukan memberi perhatian pada atasan yang bermasalah dan senang menjatuhkan bawahan-bawahannya. Dengan demikian, kita akan merasa merasa lebih lega. Karena kita mampu menghayati setiap kejadian dari sudut pandang yang lebih baik dan kemudian fokus pada apa yang seharusnya menjadi perhatian kita.


5. hey lihat, ”i’m okay”
Rasakan. Kita tak lagi memiliki emosi negatif. Tak lagi merasa marah dan mendendam. Kita merasa lebih lega. Karena kita mampu menghayati setiap kejadian dari sudut pandang yang lebih baik dan kemudian fokus pada apa yang seharusnya menjadi perhatian kita. Bahkan, kita belajar lebih banyak. Belajar memahami diri sendiri, mengurai dan mengelola kemarahan, serta memahami dengan lebih baik bahwa ada tindakan yang seharusnya tak dilakukan agar kelak kita tak melakukan kesalahan yang sama.
Betapa indahnya penghayatan seperti ini. Proses memberi maaf. Yang berarti memberi sesuatu pada orang lain. Membukakan pintu untuknya. Karena kita sudah mendapat lebih, akibat kejadian itu.
Tanpa kita sadari, hati menjadi lapang, pemikiran menjadi luas dan lebih bijaksana. Lihatlah, kehidupan menjadi lebih baik.
Pernyataan to forgive but not to forget rasanya memang tak pernah tepat. Saat kita mampu memberi maaf, artinya kita sudah mampu melihat kejadian dari sudut pandang yang lebih baik. Pernyataan, to forgive and to live a happy life, is much better..