Jumat, 22 Februari 2013

Anak Perlu Masuk Preschool? Ini Tipsnya!

Bukan rahasia, biaya pendidikan anak semakin tinggi! Sejumlah orang tua yang datang ke ruang praktek saya mencetuskan, kini salah satu investasi terbesar mereka adalah pendidikan anak. Sayang, report dari Carnegie Corporation tahun 1996 silam di Amerika, menemukan empat dari lima program pendidikan preschool, tidak sesuai standard! Bahkan hingga kini masih dipertanyakan, apakah pendidikan pra sekolah penting bagi anak?

Pendidikan Sejak Preschool, Pentingkah Bagi Anak? David Elkind, psikolog perkembangan, menyebutkan bahwa orang tua mampu menyediakan pendidikan anak usia pra sekolah di rumah. Asalkan orang tua cukup kompeten dan punya dedikasi, dalam pengertian cukup waktu dan energi untuk menstimulasi anak secara khusus. Apalagi bila lingkungan rumah memungkinkan anak bermain dengan teman sebaya dan bertemu orang dewasa selain orang tua. Bila kondisi ini tidak dapat dipenuhi, preschool menjadi penting.

Pertimbangan Dalam Memilih Sekolah Berikut ada beberapa pertimbangan dalam memilih sekolah bagi anak.

1. Lokasi

Anak dapat belajar secara optimal saat mereka sedang tidak berada dalam kondisi kelelahan. Kelelahan membuat anak sukar berkonsentrasi dan memiliki kondisi emosi yang cenderung negatif. Itu sebabnya, pertimbangan lokasi sekolah yang tidak jauh dari rumah perlu dijadikan kriteria utama.

2. Biaya

Biaya sekolah yang tinggi belum tentu menggambarkan materi dan program yang berkualitas baik. Namun biaya sekolah yang terlalu tinggi hingga memberatkan keuangan keluarga bukanlah pilihan bijak, mengingat anak kelak akan terus mengenyam pendidikan hingga tingkat tinggi. Meskipun pada klien dalam konseling saya selalu mengingatkan orangtua agar mendorong anak mendapatkan scholarships alias beasiswa namun sebagai orangtua yang ‘ready,’ Anda tetap akan dituntut mampu menyediakan pendidikan bagi setiap anak Anda. Jadi pastikan biaya pendidikan yang Anda keluarkan untuk masuk preschool, tak menghalangi Anda untuk tetap dapat berinvestasi bagi pendidikan berikutnya.

3. Kualitas Sekolah

Perbandingan guru dan anak, lingkungan fisik sekolah, karakteristik guru (pendidikan formal guru di skeolah tersebut, pelatihan-pelatihan khusus yang pernah mereka ikuti, dan perilaku guru di sekolah. Untuk melihat kondisi-kondisi ini, ada baiknya Anda melakukan trial dan melihat-lihat aktivitas di ruang kelas. Berikut panduan untuk Anda.



• Guru

Guru adalah orang dewasa yang terlihat menikmati dan memahami perkembangan anak. Pastikan jumlah guru memadai untuk anak. Berikut perbandingannya berdasarkan tahap usia perkembangan.



Usia Anak Maka Perbandingan Guru : Anak

0 sampai 1 tahun maka 1 : 3

1 sampai 2 tahun maka 1 : 5

2 sampai 3 tahun maka 1 : 6

3 sampai 4 tahun maka 1 : 8

4 sampai 5 tahun maka 1 : 10



Pastikan guru melakukan observasi dan mencatat kemajuan dan perkembangan anak

• Hubungan antara guru dan staf sekolah dengan orang tua dan komunitasnya. Guru dan staf sekolah adalah orang yang tidak pelit berbagi informasi tentang kegiatan dan perkembangan anak pada orangtua.

• Program yang diberikan dan kelengkapan equipment. Pastikan lingkungan sekolah mendukung pertumbuhan dan perkembangan anak, terutama mendorong anak yang berusia kecil bekerja sama dan bermain dengan temannya. Pastikan program sekolah dilengkapi dengan peralatan dan material belajar yang memadai. Pastikan anak didorong untuk berkembang kemampuan berbahasanya dan belajar memahami dunia luar lebih luas. Akan lebih baik bila materi diberikan dalam bentuk proyek-proyek dimana anak melakukan secara langsung dan berkreasi, bukan hanya diarahkan.

• Fasilitas sekolah. Pastikan fasilitas yang ada memadai atau mengakomodir kegiatan sekolah. Jarak antar meja dalam kelas, ukuran meja dan kursi yang sesuai usia anak, lingkungan yang ‘children frindly’, bebas racun dan polusi, dan sangat menjunjung aspek kesehatan anak.

• Sekolah internasional, national plus, atau swasta biasa, umumnya berbeda dari loading penggunaan bahasa asing dalam penyampaian materi dan sumber/dasar kurikulum yang digunakan. Pastikan pilihan Anda tentang sekolah bukan berdasarkan mana yang lebih keren atau mahal, melainkan mana yang lebih sesuai dengan budaya di rumah Anda. Jangan paksakan si kecil menggunakan bahasa asing secara total bila Anda dan seluruh isi rumah serta lingkungannya menggunakan bahasa Indonesia 100%. Bila perlu ajarkan ia bahasa ibu sekaligus bahasa asing lain. Tenang, anak mampu menyerap lebih dari satu bahasa dengan baik!



4. Pastikan sekolah yang Anda pilih, mengajarkan nilai-nilai yang sesuai dengan nilai di keluarga Anda atau nilai kehidupan yang Anda anggap penting. Misal, pendidikan agama tertentu, atau sikap dan etiket tertentu.

5. Memastikan program di sebuah sekolah baik atau tidak, dapat terlihat langsung pada perilaku anak-anak secara umum. Pastikan saat melakukan trial Anda memerhatikan bagaimana interaksi anak-anak dengan sesama mereka, interaksi mereka dengan guru dan orang dewasa disekitarnya.

Namun sekolah terbaik tetap tak akan mampu menggantikan peran orang tua dalam mentransfer nilai-nilai luhur dan mendukung kebutuhan anak belajar dan berprestasi. Pastikan sebagai orang tua Anda menunjukkan kepada anak bahwa Anda memiliki minat yang besar pada sekolahnya, kegiatan sekolah, dan pendidikan. Tingkatkan frekuensi berbicara dengan hangat bersama anak tentang kegiatan-kegiatannya dan aspirasi Anda. Semoga Anda menemukan sekolah yang tepat dan anak tumbuh-berkembang secara optimal!

Kamis, 07 Februari 2013

Sentuhan Tak Selalu Bermakna Seksual

Sukar mengesampingkan peranan sentuhan dalam aktivitas seksual. Dalam Hatfield tahun 1994 dinyatakan sentuhan merupakan dimensi penting dalam perkembangan manusia, kesehatan, dan seksualitas. Sentuhan merupakan indera dasar dari seluruh indera yang ada menurut Ashley Montagu. Mengingat reseptor pada kulit mampu berespon atas berbagai bentuk stimulasi. Meski berbeda makna kedalamannya dalam setiap budaya, namun tak ada indikasi perbedaan sentuhan pada laki-laki dan perempuan menurut berbagai penelitian dalam Bryan Strong dkk. (2005) di buku mereka Human Sexuality.


William Masters dan Virginia Johnson mengusulkan perlu ada sentuhan yang tak selalu bermakna sebagai awal aktivitas seksual. Disebut pleasuring, sentuhan-sentuhan yang justru bukan di organ intim. Ditujukan untuk meningkatkan kenyamanan Anda bersama pasangan. Bahkan Anda belajar saling mengeksplorasi bagian-bagian dari tubuh Anda dan pasangan yang peka terhadap sentuhan. Saling mengarahkan, memberi respon tentang apa yang Anda rasakan memudahkan Anda mengenali tubuh satu dengan lainnya.


Pleasuring penting. Mengingat makna sentuhan tak selalu sama bagi Anda dan pasangan. Bisa bermakna aman, menunjukkan kedekatan, atau justru permulaan aktivitas seksual. Bila sentuhan merupakan masalah dalam hubungan Anda dan pasangan, cobalah untuk sekedar memberi pleasure satu sama lain.


Tak perlu kecewa ketika sentuhan menghasilkan kenyamanan yang berbeda antara Anda dan pasangan. Nikmati saja ‘pesan’ yang tersampaikan lewat sentuhan.

Senin, 30 Juli 2012

Mengaku Anti-Bullying? Introspeksi Dulu,
Jangan-Jangan Punya Mentalitas-Bully!

Adanya indikasi bully di acara MOS (Masa Orientasi Sekolah) sebuah sekolah swasta di daerah Jakarta Selatan baru-baru ini cukup menghebohkan. Seolah mengingatkan kembali pada kasus-kasus bully yang dulu juga sempat marak di berbagai acara orientasi mahasiswa. Ternyata bullying masih eksis? Konon malah semakin sadis.

Ada penyekapan, penyiksaan, hingga melibatkan aksi penyundutan dengan rokok. Banyak yang protes, terlihat dari ramainya sikap yang ditunjukkan di ranah twitter hingga tindakan tegas pihak kepolisian dan komisi III DPR yang mulai mempertanyakan keberadaan MOS di sekolah.

Di tengah sikap #AntiBullying tak banyak yang sungguh-sungguh memahami aksi bully itu sendiri. Bully merupakan suatu bentuk perilaku agresif yang melibatkan paksaan, tekanan, dan kekerasan pada orang lain. Bully umumnya tak hanya dilakukan satu kali, melainkan terus menerus khususnya ketika ada kekuatan yang tidak seimbang antara pelaku dan orang yang menjadi target bully.

Bully tak hanya kekerasan yang ditunjukkan secara fisik, seperti kekerasan lainnya, bentuk kekerasan secara verbal dan emosional pun tergolong ke dalam aksi bully. Aksi bully secara umum khas menunjukkan adanya intimidasi.

Aksi bully bisa terjadi terus menerus dan berlangsung seperti lingkaran setan. Mereka yang pernah di-bully rentan untuk kelak melakukan aksi bully yang sama ketika memiilki kesempatan untuk menampilkannya. Itu sebabnya langkah preventif dalam mengembangkan gerakan anti bully justru dimulai dari diri sendiri. Melakukan introspeksi.

Terlepas memiliki karakter pe-bully atau tidak, jangan-jangan kita punya #MentalitasBully . Beberapa catatan penelitian memang banyak memberi gambaran tentang karakter pe-bully, seperti; dominan, arogan, hingga narsis, dan agresif. Ada pula yang mengatakan bahwa aksi bully bisa jadi merupakan manifestasi dari kecemasan dan perasaan tak berdaya yang dilampiaskan dalam bentuk sebaliknya, yakni mengintimidasi orang lain. Juga ada catatan bahwa pe-bully bisa jadi mereka yang sedang cemburu atau envy pada target nya.

Namun tak banyak yang sadar, aksi bully bukan sebatas intimidasi senior terhadap yunior dalam MOS. Aksi bully berisiko terjadi dalam berbagai konteks, like everywhere. Selama ada interaksi antar manusia, bully bisa saja muncul di sana. Di sekolah, rumah, lingkungan tetangga, tempat ibadah, lingkungan kerja atau kantor, di kelompok sosial, bahkan dalam dunia cyber, dan sebagainya. Di tengah sikap keras anti bully yang disyiarkan di berbagai media, bisa saja kita dalah salah satu pelaku atau orang yang secara sadar tak sadar masih memelihara mentalitas bully di dalam diri.

Berikut ini merupakan tindakan khas dari mereka yang memiliki mentalitas bully.
• Senang mengintimidasi atau mempermalukan hingga melakukan sabotase pada rekan kerja di kantor atau di institusi terkait pekerjaannya. • Memaklumi senioritas yang semena-mena, baik dilingkungan kantor, universitas, lingkungan prraktek kerja, atau sekolah, dan turut menikmatinya. • Berlaku seenaknya dan tidak menghargai kaum minoritas maupun mereka yang cacat • Senang menyebar rumor atau gosip tentang orang lain bahkan menekan siapapun yang ingin berteman dengannya, mengolok-olok caranya berpakaian atau pilihan orientasi seksualnya. • Mengintimidasi seseorang melalui media teknologi, seperti via email, social media, misal; mengata-ngatai seseorang, menebar teror, atau fitnah.

Menghentikan bully hanya bisa dilakukan bila semua individu sepakat dalam memaknai bully dan setuju untuk tak lagi memelihara mentalitas bully dalam diri sendiri. Let’s say: Stop Bullying!

Senin, 05 Desember 2011

Anak Eksis di Media Sosial

Is the stage too big for kids? Rasanya pertanyaan ini tepat dijadikan acuan dalam memahami eksis nya anak di media sosial.

Media sosial merupakan media ajang interaksi sosial yang melibatkan teknologi berbasis internet. Mungkin saat ini kita hanya kenal dengan beberapa media sosial seperti Facebook dan Twitter. Sebetulnya ada sejumlah bentuk media sosial. Kaplan dan Haenlein membuat pembagian media sosial dalam enam tipe, yang mereka tampilkan dalam artikel “Business Horison” terbit tahun 2010 silam, antara lain: proyek-proyek kolaborasi (seperti Wikipedia), blogs dan microblogs (mis. Twitter), komunitas konten (seperti Youtube), situs jejaring social (mis. Facebook), game virtual (World of Warcraft), dan dunia sosial virtual (Second Life).

Pada dasarnya, beberapa media sosial memberi batasan usia bagi siapa saja yang bisa bergabung didalamnya. Seperti Facebook, batas usianya adalah tiga belas tahun. Tentu ada sejumlah alasan, mengapa anak di bawah usia tersebut tidak diperbolehkan memiliki akun Facebook. Orang tua diharapkan peka memahami alasan ini dengan pertimbangan karakter anak dan risiko yang mungkin muncul.

Karakter Anak
- Secara umum kemampuan berpikir anak tergolong konkrit. Dalam pengertian mereka hanya mampu berpikir tentang apa yang saat itu sedang terjadi dan terlihat di depan matanya. Sehingga belum memiliki kemampuan yang memadai untuk bisa memprediksi dampak dari tindakannya di kemudian hari. Itu sebabnya anak sukar diharapkan untuk bertanggung jawab sepenuhnya atas tindakan yang dilakukan.
- Anak dalam tahap usia tertentu, seperti preteen dan teen, sedang getol-getolnya berpusat pada diri sendiri. Sehingga kerap mengumbar diri secara berlebih dari yang seharusnya

Risiko pada Anak
- Anak kerap tak memahami bahkan “lupa”, siapa saja yang bisa melihat status-statusnya, komentarnya, atau photo dan video yang diunggah. Anak belum memahami bahwa saat on-line, ia benar-benar terhubung dengan seluruh dunia. Siapa pun, bila tidak dibatasi, akan bisa melihat dan terhubung dengannya. Entah orang asing, pelaku kriminal, pedofil, dan sebagainya. Jejaring media sosial bisa dikatakan terlalu besar untuk anak. Yang konkrit bagi mereka, mereka sedang “berbicara” pada laptop atau gadgetnya. Jangankan anak, orang dewasa saja terkadang “lupa” akan kondisi ini.
- Aksi mengumbar diri dan emosi secara berlebih rentan untuk disalahgunakan pihak luar yang tak bertanggung jawab. Bahkan terkadang mereka curhat tentang keadaan orang tua atau mengungkapkan kemarahan pada teman dan guru di statusnya. Mereka sukar menyadari Apa yang sudah terpapar ke media sosial kerap akan tetap ada di sana secara permanen. Dalam arti akan selalu ada sampai kita menghapusnya. Bahkan kita terkadang gagal menghapusnya bila sudah terlempar ke semua orang yang terhubung di media sosial.

Tindakan Orang Tua
- Orang tua sejak awal harus lebih dulu memahami dan menyadari apa itu media sosial dan sejumlah dampak atau konsekuensi yang mungkin bisa terjadi ketika sudah bergabung didalamnya. Melepas anak di media sosial dengan memberi mereka password tanpa memberi arahan dan persiapan, ibarat melepas anak menyetir mobil sendiri dan memberi mereka kunci tanpa mengajarkan kepada mereka terlebih dahulu bagaimana caranya menyetir. Apakah anak tidak layak menyetir mobil? Tentu mereka layak nanti di usia tertentu dan setelah memperoleh latihan. Layakkah anak punya akun media sosial? Layak di usia tertentu dengan catatan setelah memeroleh sejumlah bimbingan dan arahan dari orang tua. Jangan pernah membiarkan anak memiliki akun Facebook bila belum berusia tiga belas tahun atau memiliki akun Twitter sementara orang tua tak punya akun Twitter dan tak mengerti apa itu Twitter.
- Orang tua dapat mengintip sejumlah tips yang banyak beredar di internet, misal di website common sense media atau bertanya pada pakar.
- Bila anak memiliki akun pastikan orang tua memantau dengan cara mendiskusikan bersama anak secara rutin aktivitasnya. Mengingatkan mereka bahwa media sosial tetap sebuah ruang publik. Aktivitas pertemanan secara on-line similar dengan pertemanan di dunia nyata atau off-line. Sehingga orang asing tetaplah orang asing dan rahasia diri dan keluarga tetap rahasia.

Selasa, 22 Maret 2011

Mengajarkan Anak Mengenal Uang & Berhemat


Hello parents.. Just check it out, before you read the article..
Parents small test
Pertanyaan

1. Apa yang dilakukan anak Anda terhadap uang hadiah (uang salam tempel/angpau) atau uang sakunya (harian/bulanan)?
a. Belum mengenal uang b.Digunakan jajan c.Ditabung d.Digunakan jajan & ditabung
2. Mampukah anak Anda berbelanja di warung/swalayan/minimarket?
a. Tidak/belum pernah b.Ya
3. Mampukah ia menentukan uang kembalinya?
a. Tidak b.Ya
4. Apakah anak Anda memiliki tabungan sendiri?
a. Tidak b.Ya
5. Apakah anak Anda memiliki penghasilan pribadi?
a. Tidak b.Ya

Skoring
 a = 0 b = 1 c = 2 d = 3
 Jumlahkan
 Skor tertinggi = 7
 Skor terendah = 0

Arti skor
 0 = belum mengenal uang
 1 – 3 = hanya mengenal uang
 4 – 7 = mampu mengelola uang

Miskonsepsi tentang Uang
Ada sejumlah hambatan yang menghalangi anak memahami konsep uang dengan tepat. Antara lain;
 Uang bukan untuk ANAK-ANAK
Sejumlah orang tua dengan sengaja tidak memberikan uang pada anaknya karena khawatir anak tidak mampu menyimpan dan mengelola uang yang diberikan kepadanya. Beberapa di antara orang tua tidak memebrikan uang pada anak dalam usaha mencegah anak memebelanjakan uangnya guna membeli penganan atau snack yang tidak sehat. Padahal tindakan ini justru memebuat anak menjadi tidak paham uang dan terdorong untuk sukar mengendalikan dirinya sendiri.
 Uang “mudah” diperoleh (seperti mengambil uang di ATM)
Sejumlah orang tua ‘seolah” ingin menunjukkan pada anaknya, betapa uang mudah diperoleh. Tekadang tindakan ini tidak disengaja. Ketika orang tua mengambil uang di mesin ATM, pastikan anak-anak paham bahwa uang tidak diambil begiu saja di mesin ATM. Uang dari mesin ATM adalah uang yang kita simpan dengan memasukkan uang lebih dulu ke bank.
 Uang semata untuk “jajan”
Penggunaan istilah uang jajan adalah tidak tepat. Seolah uang diberikan kepada anak dengan tujuan untuk dibelanjakan membeli jajanan. Padahal uang yang diberikan kepada anak sebaiknya tidak melulu untuk belanja. Sebagian disimpan untuk dijadikan tabungan tentu lebih baik dampaknya bagi anak. Sehingga penggunaan “uang saku”lebih tepat.

Sangat penting bagi anak untuk memahami konsep uang sejak dini. Yakni ketika anak sudah mulai tertarik mempelajari berbagai konsep, seperti hewan, tumbuhan, warna, bentuk, ajarkan pula padanya konsep tentang uang. Tahukah Anda, bahwa pemahaman akan konsep uang merupakan salah satu keterampilan adaptif. Keterampilan adaptif adalah kemampuan anak untuk dapat berfungsi dengan baik dalam menghadapi tantangan dari lingkungan.

Tahap mengajarkan Anak Kelola Uang
1. Mengenalkan
Beri anak uang, ajarkan perbedaan nilai.
Nilai uang dapat dijadikan “alat tukar” universal
2. Menghasilkan
Jadikan uang sebagai reward atas usaha-usahanya, a.l
1. Memeroleh nilai tinggi di sekolah atau prestasi atas aktivitas yang diikutinya
2. Disiplin: mengerjakan PR/belajar/melakukan aktivitas reguler (ibadah, merapikan kamar, dll)
Kenalkan entrepreneurship
3. Menggunakan
Memberi uang saku
Membeli kebutuhan
4. Menyimpan
Set goals, berupa rencana anak ke depan untuk memiliki sesuatu sehingga menjadi alasan baginya untuk menyimpan uang.
Beri celengan
Ajak ke bank, ketika jumlah tabungan di celengan sudah memadai.

Menjadi Full Time Mom (FTM) adalah Pilihan!

“Ohhh.. ibu rumah tangga?” pertanyaan ini kerap disampaikan dalam nada sinis. Lucunya, justru sering keluar dari mulut perempuan dan ditujukan kepada sesama perempuan yang rela “menyerahkan diri” sebagai full-time mother (FTM). Pertanyaan yang seolah merampingkan peran seorang ibu yang full-time ada di rumah.

Tak banyak yang menyadari, justru peran menjadi FTM tak kalah berat dengan working mom bahkan half-time working mom. Bila seorang working mom menghabiskan sekitar delapan hingga sepuluh jam waktunya untuk bekerja di luar rumah maka seorang FTM menghabiskan seluruh waktu tadi untuk mengurus anak hingga mengurus segala tetek bengek domestik alias urusan rumah tangga.

Bahkan tak jarang seorang FTM mengemban tuntutan yang lebih tinggi dari suami, orang tua, mertua, hingga lingkungan sekitarnya untuk dapat mengasuh anak, mengurus rumah berikut suami, melebihi seorang working mom. Dan perlu dicatat, tanpa gaji dan uang lembur. Karena FTM tak pernah dianggap sebagai pekerjaan melainkan hanya sebuah kegiatan yang sudah sepantasnya dilakukan oleh seorang istri dan ibu. Bahkan tak jarang mereka diberi istilah magabu suami alias makan gaji buta dari suami.

Sejumlah klien saya, yang terpaksa berkarir sebagai FTM, cenderung mengeluh tentang beratnya tuntutan yang dibebankan di atas pundak mereka khususnya yang berkaitan dengan pengasuhan dan tugas-tugas domestik. Tak jarang mereka harus menghadapi kenyataan sebagai satu-satunya kambing hitam saat anak-anak bermasalah di sekolah termasuk saat urusan rumah tangga tak dapat di-handle dengan baik. Termasuk menghadapi kenyataan saat suami enggan diminta turut berbagi peran di rumah. Dengan alasan. FTM sudah cukup mendapat jatah untuk ”enak-enakan” ada di rumah. Bebas macet, konflik dengan atasan dan rekan, berkesempatan tidur siang dan bersantai sepanjang hari. Padahal, peran ayah tetap dibutuhkan dalam pengasuhan anak karena mmebawa atmosfir ynag berbeda dalam pengasuhan.

Itu sebabnya sejumlah FTM diketahui justru jauh dari perasaan bahagia dan sejahtera. Khususnya ketika peranan sebagai FTM merupakan sebuah kondisi yang dipaksakan. Bukan sebuah pilihan. Akibat tuntutan suami dan keluarga atau karena memiliki anak dengan kondisi tertentu. Bahkan FTM pun rentan akan stress, terutama bila power seutuhnya ditentukan dan dipegang oleh suami, sebagai satu-satunya tokoh bread winner di rumah, seperti pengambilan keputusan, keuangan, dan lain sebagainya.

Padahal perasaan bahagai dan sejahtera seorang ibu penting bagi pegasuhan yang optimal pada anak, terutama saat membangun kehangatan dan kelekatan. Hubungan yang hangat dan lekat penting bagi perkembangan psikososial pada anak. Tak hanya pengasuhan anak yang turut terpengaruh ketika kondisi ibu tak bahagia. Termasuk juga hubungan suami istri, mengingat sumber emosi di rumah berpusat pada seorang ibu.
FTM juga rentan akan perasaan diri tak berharga serta perasaan-perasaan tak percaya diri lainnya maka kondisi ini dapat berbanding terbalik dengan sejumah working mom. Working mom umumnya jauh lebih kompeten dan memiliki perasaan diri berharga yang baik. Mereka pun tergolong aman dan independent secara finansial.

Namun sekali lagi, tak perlu berkecil hati, saat FTM menjadi pilihan karir Anda. Karena sebetulnya tingkat kepuasan ibu terletak bukan pada peran sebagai FTM atau working mom. Melainkan ditentukan oleh, apakah kondisi menjadi FTM maupun working mom merupakan pilihan atau sebuah keadaan yang terpaksa?

Tentu saja peranan suami pun penting artinya bagi kepuasan ibu, baik yang FTM maupun bekerja. Ibu-ibu akan jauh lebih sejahtera saat memiliki pasangan yang bersedia berbagi peran dan memberi kontribusi yang adil dan seimbang di rumah.

3 Langkah FTM to the max!
- Pastikan menjadi FTM adalah pilihan Anda. Ketka Anda merasa terpaksa dan tetap ingin bekerja, temukan celah yang memungkinkan Anda untuk tetap memulai karir dari rumah. Tak ada gunanya bila Anda memilih menjadi FTM namun selalu mengeluh dan menyesali keadaan diri.
- Me-time, penting! Ingat, meski anda seorang istri dan ibu, Anda tetap seorang individu yang independent. Pastikan Anda memiliki waktu luang untuk diri sendiri, tanpa embel-embel membawa anak dan urusan rumah tangga. Saat melakukan aktivitas yang menjadi hoby dan minat anda. Me time penting agar Anda merasa berharga dan independent.
- Go social. Pertemanan tetap dibutuhkan agar Anda tetap memiliki kehidupan sosial ala wanita dewasa. Bersama dengan anak dan suami sepanjang waktu tak bisa menggantikan peran teman-teman perempuan dalam hidup Anda. Kehidupan sosial meningkakan perasaan sejahtera.

MEMAHAMI MULTIPLE INTELLIGENCE

Berbicara tentang inteligensi yang ada di benak kita adalah kecerdasan yang dimiliki seseorang. Inteligensi dimaksudkan sebagai kapasitas yang dimiliki individu sehingga memungkinkan ia untuk belajar, bernalar, memecahkan masalah, dan melakukan tugas-tugas kognitif tingkat tinggi lainnya. Inteligensi yang tinggi selalu kita kaitkan dengan orang yang punya kemampuan seperti Albert Einstein. Itu yang kita sebut sebagai genius. Sementara individu yang berada pada ekstrim satunya kita cap sebagai orang dengan inteligensi rendah atau keterbelakangan mental.

Meskipun para ahli terutama di bidang psikologi belum merumuskan term inteligensi dengan tepat, sudah banyak usaha yang dilakukan untuk melakukan pengukuran terhadap inteligensi bahkan sejak awal 1900-an. Ini bermula dari sebuah sekolah di Perancis yang ingin membuat program pendidikan berdasarkan kecerdasan anak agar diperoleh manfaat yang optimal.

Alfred Binet kemudian merancang alat tes yang dapat membedakan siswa yang cerdas dari yang tidak cerdas. Hingga tercipta sebuah pengukuran yang disebut IQ atau Intelligence Quotient. Sebagai satuan ukuran, pada dasarnya IQ sama saja seperti gram untuk satuan ukuran berat, meter satuan ukuran panjang, dan quotient satuan skor yang menunjukan taraf kemampuan skolastik seseorang yang mencakup kemampuan verbal dan kemapuan logis matematika. Sampai saat ini sudah banyak tes IQ yang berkembang, antara lain; yang terkenal adalah tes Stanford-Binet dan Wechsler.

Menggunakan skor IQ sebagai satuan yang menunjukkan fungsi inteligensi seseorang sama artinya dengan menggunakan satu faktor tunggal (g-factor dari Spearman) saja untuk menggambarkan inteligensi secara universal. Artinya kalau seorang anak memperoleh skor tinggi pada tes tertentu, misalnya bahasa, dapat diramalkan dia juga akan memperoleh skor tinggi pada tes logis matematika. Jadi inteligensi dipandang sebagai satu faktor umum yang berkaitan.

Sayangnya, sebagai alat yang terbatas hanya mengukur kemampuan skolastik, skor IQ sering secara berlebihan digunakan sebagai patokan dalam meramalkan kesuksesan seorang individu, tidak hanya di sekolah tapi juga dalam pilihan karir, pekerjaan, serta lingkungan sosial di masa yang akan datang. Sehingga tanpa sadar kita mengabaikan keberadaan jenis kecerdasan lain yang juga berkembang dalam diri seorang individu.

Dapatkah kita katakan bahwa Beethoven, komposer kenamaan yang memiliki kemampuan luar biasa di bidang musikal, namun memiliki keterbatasan pada kemampuan matematika dan bahasa sebagai orang yang tidak cerdas? Bagaimana dengan pelukis Pablo Picasso bahkan seorang Nadia Comaneci pesenam handal asal Rusia itu. Apakah mereka memiliki IQ yang tinggi? Belum tentu. Seorang Liz Taylor tetap dapat sukses meskipun dia tidak memiliki kemampuan yang sama seperti Einstein atau Bill Gates. Jadi kecerdasan seperti apakah yang mereka miliki?

Kondisi ini yang dipertanyakan oleh Howard Gardner seorang profesor dari Universitas Harvard dan pemelopor Project Zero. Dalam bukunya Frames of Minds tahun 1983, ia mengemukakan konsep inteligensi sebagai multi faktor, yakni terdiri dari tujuh dimensi, yang saling terpisah. Bukan semata konstruk unit tunggal. Konsep ini bermula dari temuannya bahwa bagian otak tertentu bertanggung jawab pada kecerdasan tertentu. Namun bukan berarti Gardner mengatakan bahwa ketujuh faktor tersebut dapat merepresentasikan inteligensi secara menyeluruh.

Ia kemudian merancang sebuah studi yang dapat mengetahui cara lain bahwa seorang individu juga dapat dikatakan cerdas. Jadi bukan mempertanyakan “Apakah anak ini cerdas?” namun lebih kepada “Kecerdasan seperti apa yang dimiliki anak ini?” Gardner percaya ada berbagai macam betuk kecerdasan pada setiap individu dalam derajat yang berbeda-beda.

Bagaimana mengidentifikasi setiap macam kecerdasan pada anak? Berikut adalah tujuh kecerdasan yang pada awalnya dikemukakan oleh Gardner.
1. Kecerdasan Bahasa
Kecerdasan ini berada pada area lobus frontal dan lobus temporal kiri (misalnya pada wilayah Broca/Wernicke).
Anak yang memiliki kemampuan kecerdasan yang besar pada area ini memiliki kemampuan pendengaran yang sangat berkembang dan menikmati aktivitas berbahasa. Mereka cenderung untuk berpikir dalam kata daripada gambar dan sering terlihat membaca buku atau menulis cerita atau puisi. Mereka umumnya merupakan pendongeng yang hebat, pembicara atau aktor yang ulung. Mereka dapat belajar secara optimal melalui kata-kata, melihat, atau mendengar kata. Inteligensi ini merupakan yang paling banyak dimiliki oleh semua orang.
2. Kecerdasan Matematika/Logis
Berkaitan dengan lobus parietal kiri (dan wilayah temporal maupun oksipital yang berkaitan atau berdekatan dengannya)
Kecerdasan ini ditandai dengan kemampuan berpikir secara konseptual. Biasanya individu dengan kecerdasan matematika yang baik suka mengeksplorasi pola, kategori, dan hubungan, dan sering bertanya tentang lingkungan sekitarnya. Mereka menyukai puzle atau permainan yang membutuhkan kemampuan nalar. Individu seperti ini sering ditemui di perusahaan-perusahaan komputer atau kimia.
3. Kecerdasan Visual Spatial
Kecerdasan ini berada pada wilayah posterior di hemisphere kanan. Kecerdasan ini berkaitan dengan kemampuan mempersepsi visual-spatial secara tepat, seperti mengetahui dimana saja letak segala sesuatunya di dalam kelas, berpikir lebih pada gambar 3 dimensi dibandingkan kata-kata dan memiliki kemampuan untuk melihat, mengingat, dan menciptakan objek. Kecerdasan ini biasanya disertai dengan kemampuan imaginasi yang tinggi.
Amati saja apakah anak tersebut senang berkutat dengan pekerjaan-pekerjaan seni; membuat coretan-coretan; menikmati seni dan tampilan-tampilan visual; bekerja dengan puzzle atau mazes; mudah memahami peta, grafik, dan diagram;
4. Kecerdasan Musikal
Kecerdasan ini berada pada lobus temporal kanan. Mereka yang memiliki bakat dalam kecerdasan ini memiliki rasa yang kuat terhadap pola bunyi, irama, nada, dan tempo. Kemampuan mereka dalam mendengar dan memahami pola-pola tersebut sangat berkembang. Termasuk didalamnya memahami bentuk ungkapan musik.
5. Kecerdasan Kinestetik
Berada di bagian serebelum, ganglia basal, korteks motor. Kecerdasan ini berkaitan dengan kemampuan yang tinggi untuk mengendalikan gerak tubuh dan menangani benda-benda. Kecerdasan ini biasanya terdapat pada ahli bedah, atlet, penari, aktor, pematung, penjahit, dll.
6. Kecerdasan Interpersonal
Kecerdasan ini berkaitan dengan lobus frontal, lobus temporal (terutama pada hemisphere kanan), dan sistem limbik.
Kecerdasan ini berkaitan dengan kemampuan untuk memahami dan berinteraksi secara efektif dengan orang lain. Kemampuan untuk membedakan dan menanggapi dengan tepat suasana hati, perangai, motivasi, dan hasrat orang lain.
7. Kecerdasan Intrapersonal
Kecerdasan ini berada pada lobus frontal, lobus parietal dan sistem limbik. Kecerdasan ini berkaitan dengan kemampuan untuk memahami diri secara individual. Kemampuan untuk memahami emosi serta kekuatan dan kelemahan diri sendiri atau individu. Seperti pada Psikolog atau pada seorang Teologis

Belakangan Gardner menambahkan adanya kecerdasan baru yang disebut Kecerdasan Naturalis yakni kemampuan untuk mengamati pola alamiah dan memahami sistem pada makhluk hidup. Seperti kemampuan untuk mengidentifikasi sebuah spesies, membedakan antar anggota spesies, dll.

Setiap anak memiliki kecerdasan multiple ini dalam derajat yang berbeda seperti yang sudah saya jelaskan di atas. Karena setiap kecerdasan berkaitan dengan area otak yang berbeda, maka kerusakan pada suatu bagian otak saja tidak mengakibatkan hilangnya semua kecerdasan yang dimiliki anak. Baik anak berbakat maupun yang mengalami keterbalakangan mental hingga autisme pun masih mungkin untuk memiliki kelebihan pada kecerdasannya yang lain.

Tentu saja pandangan ini membawa angin segar terutama bagi mereka yang memiliki anak dengan gamngguan perkembangan, seperti autisme misalnya. Masih ingat film “Rain Man” yang dibintangi oleh Dustin Hoffman? Film ini menggambarkan bagaimana seseorang yang mengalami autisme mampu memiliki kemampuan matematika dan berhitung yang luar biasa. Hingga kemampuan tersebut ia gunakan untuk membantu kakaknya berjudi di Las Vegas dengan terus mengamati setiap kartu yang dimainkan.

Pendekatan yang berdasarkan pada Inteligensi Multipel ini bahkan sudah mulai diterapkan dalam dunia pendidikan melalui Project Spectrum. Dimana guru tidak lagi merangsang inteligensi anak secara langsung dengan menggunakan materi yang berkaitan dengan kemampuan verbal atau spatial namun lebih menggunakan materi yang berkaitan dengan setiap jenis kecerdasan yang ada sehingga mendorong anak untuk merangsang setiap jenis kecerdasan yang mereka miliki.

Konsep ini benar-benar telah berhasil membawa kita pada perspekstif lain dalam memahami inteligensi dan kompetensi pada individu. Tidak heran mengingat sudah begitu banyak seminar dan buku yang diterbitkan membahas konsep ini secara berulang-ulang. Tidak sedikit yang menilai konsep ini secara berlebihan tanpa mengungkap masih banyak yang perlu diteliti dan dikembangkan dari konsep ini.

Itu sebabnya dari tadi saya menyebut Inteligensi Multipel ini sebagai konsep bukan teori. Karena pada kenyataannya Inteligensi Multipel belum memiliki landasan penelitian yang kuat. Penelitian memiliki arti penting dalam mendukung berkembangnya sebuah konsep menjadi suatu teori. Berdasarkan teori inilah nantinya baru dapat kita kembangkan suatu skala pengukuran. Hal-hal seperti ini yang belum dipahami masyarakat pada umumnya.

Saya jadi teringat pada seorang ibu yang dapat ke klinik tempat saya berpraktek. Ia terlihat heran ketika mendengar belum dapat dilakukan pengetesan seperti melakukan pengetesan untuk skor IQ pada kemampuan Inteligensi Multipel yang dimiliki anaknya.

Beberapa ahli mengkritik karena Inteligensi Multipel terlalu menekankan pada faktor spesifik dari inteligensi (s-factor). Beberapa lainnya mempertanyakan berapa banyak domain yang belum tercakup dalam Inteligensi Multipel ketika kemampuan di bidang musikal saja dijadikan salah satu tipe kecerdasan. Gardner sendiri mengakui masih panjangnya perjalanan yang harus dilalui konsep Inteligensi Multipel ini. Namun sebagai sebuah konsep, Inteligensi Multipel sudah memiliki perspektif dan penggemarnya sendiri.